Jogjakarta dinyatakan sebagai propinsi yang tingkat kelulusan ujian nasional paling rendah tahun ini. Ironis memang jika mengingat Jogja adalah kota yang menyandang nama besar sebagai kota pendidikan.
Namun, jika ditilik lebih jauh, ada hal yang cukup menggelitik saya untuk bertanya lebih lanjut, yaitu fakta bahwa Jogja menduduki peringkat tertinggi dalam indeks kejujuran pada pelaksanaan ujian nasional tahun ini. Menjadi pertanyaan apakah kemudian benar pameo “jujur hancur” yang banyak berkembang di masyarakat. orang yang jujur dan apa adanya dianggap sebagai hal aneh bahkan merugikan diri sendiri. Seperti kasus ujian nasional ini, guru yang melaksanakan ujian dengan benar bisa jadi malah dianggap sebagai pengacau, dihardik, dikucilkan. Guru lain dipuji karena memberi bocoran kepada murid-muridnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa ujian nasional telah banyak menimbulkan banyak korban. Namun diakui atau tidak, ujian masih sangat diperlukan dalam rangka menjaga kualitas pendidikan kita. Di sisi lain, meskipun berat, pihak sekolah harusnya berlaku benar dan jujur. Agar siswanya lulus tidak sepantasnya mengambil jalan pintas tapi harus dengan kerja keras. Begitupun orangtua dan masyarakat harus sadar bahwa hasil pendidikan bukan hanya yang tertulis di ijasah. Kejujuran adalah salah satu hasil yang jauh lebih dibutuhkan saat ini ketimbang nilai di kertas. Apa jadinya kalau hasil pendidikan kita adalah insinyur yang tidak jujur, sarjana hukum yang tak jujur, akuntan yang tak jujur, dokter yang tak jujur, guru yang tak jujur!
Saya punya keyakinan, dengan semakin majunya teknologi, nantinya nilai ijazah tak akan begitu diperhatikan. Anda tak bakal dapat menebak siapa dibelakang bisnis online yang pendapatannya bisa ribuan dolar per bulan. Bisa jadi hanya seorang tukang sapu yang hanya tamat SD. Tak akan laku ijazah S3 anda lalu anda scan dipasang di halaman depan blog anda lalu otomatis anda sukses di bisnis online anda. karena nanti yang dihargai adalah kompetensi diri, kualitas produk dan kejujuran anda.