Anda tentu masih ingat adanya berita adanya kekerasan dalam dunia pendidikan kita, baik kisah bagaimana senior memperlakukan junior, guru memperlakukan murid, murid memperlakukan guru,dan banyak lagi.
Kekerasan nampaknya telah menjadi bagian pendidikan kita. Tak heran ketika murid murid menjadi mahasiswa, kerjaannya tawuran, ketika menjadi dewasa hobi nya berkelahi dan membuat rusuh.
Sudah waktunya kita introspeksi lagi akan pendidikan anak-anak kita. Mulai memandang murid dan anak-anak sebagai manusia, memperlakukan secara manusiawi.
Ada sebuah riwayat, suatu ketika Rasulullah menggendong seorang anak kecil. Ketika digendong, ternyata anak ini buang air. Ibu dari anak ini karena marah campur malu lalu merenggut si anak dari pangkuan Rasulullah dengan kasar. Tapi Rasulullah menegur si ibu ini. Nabi bersabda, “Wahaiai (ibu), bajuku ini bisa dibersihkan oleh air, tetapi hati seorang anak siapa yang bisa membersihkan”.
Masa anak-anak adalah masa sensitif. Perlakuan maupun perkataan kita bisa jadi akan berimbas sangat panjang bahkan bisa seumur hidup. Kita seringkali lebih menganggap anak atau murid sebagai ‘anak kecil’ bukan sebagai ‘manusia’ mandiri yang juga memiliki pikiran dan perasaan mereka sendiri. Kita sering kali kurang menghargai mereka.
Saya dan istri suatu ketika berangkat kantor meninggalkan anak saya yang masih sangat kecil, usianya masih beberapa bulan. Waktu itu pengasuhnya baru datang dan agak belum begitu akrab. Dan waktu berangkat terlihat wajah anak saya agak cemberut. Kami lalu berpikir bahwa kita seringkali menganggap bayi belum punya perasaan sehingga ditinggal dengan pengasuh yang belum akrab pun dia tidak merasa. Mungkin saja pandangan itu salah, karena kita memandang dari sisi orang dewasa.
Suatu ketika saya mendampungi teman mengajar di SD. Saya menyarankan untuk memberi reward kecil bagi yang dirasa pantas. bagi orang dewasa mungkin reward ini tak ada artinya, tapi bagi anak, hadiah permen atau coklat kecil bisa berdampak besar. Saya masih ingat waktu kelas 1 SD senang sekali mendapat hadiah uang 100 perak karena juara kelas. Sayang, di kita upaya memanusiakan anak dan empati kepada anak masih sangat kurang