Ada sebuah pepatah: Kata kata itu ibarat anak panah. Jika dia telah lepas maka dia dapat membunuh atau melukai dan kita tak dapat menghentikannya. Satu satunya cara agar anak panah itu tak sampai membunuh atau melukai mereka yang bersalah adalah memastikan dengan hati-hati sebelum melepasnya dari busur.

Kita seringkali tidak aware benar dengan kata-kata yang kita lepaskan, baik melalui lisan atau tulisan. Kita terkadang sembrono mengomentari sesuatu atau seseorang yang bisa jadi menyakitkan. Mungkin kita suka asal ‘nyampah’ di status Facebook yang tak ada guna manfaat. Kita sering tak sadar sedang melepas panah-panah liar yang kita sendiri bahkan tak tahu kemana panah itu menyasar.

Teman-teman saya banyak menilai kalau saya ini pendiam, bahkan sangat pendiam. Barangkali banyak yang tak tahu kalau di kepala dan hati saya ini sebenarnya banyak sekali yang ingin saya ungkapkan. Namun saya seringkali tak menemukan momen yang tepat untuk mengutarakan itu semua. Ketika memang momen saya anggap tepat, saya baru memberondongkan ‘anak panah’. Biasanya konteksnya adalah diskusi hati ke hati. Jadi jangan heran kalau saya dalam rombongan dan sedang bergurau kesana kemari yang tidak penting, saya sering hanya jadi pendengar manis saja. Bukan apa-apa, saya hanya tak berminat. Untuk berbasa-basi pun, terus terang saya tidak bisa. Tapi kalau dalam diskusi yang hangat dan saya rasa bermanfaat, saya tak segan mengoceh sampai tengah malam, bahkan saat semasa kuliah dulu, kalau diskusi bisa sampai subuh.
Juga kalau saya dimintai pendapat atau nasehat dari sahabat, saya bisa kasih banyak masukan. Tak jarang ketika sudah sekian lama, beberapa sahabat itu membicarakan apa yang pernah saya kasihkan sebagai masukan, dan saya sangat sering kalau saya pernah memberi masukan itu 🙂 Tapi, at least, meski lupa, panah yang saya lepaskan ternyata cukup tepat sasaran.
Saya berprinsip,setiap kata adalah amanah, juga adalah media yang menakjubkan. Dia bisa menjadi senjata pembunuh atau obat penyembuh, tergantung dari si empunya.

Advertisements