Hari-hari ini ada satu hal yang membuat saya jadi bertanya-tanya kenapa semua orang membicarakan hal yang tak penting. Dari anak sekolah, pegawai, artis, pakar, pejabat bahkan orang-orang yang lebih penting, semua berbicara soal video yang konon mirip artis.

Saya setuju bahwa soal moralitas kita harus kembali dibangun total setelah lama nampaknya moral bangsa ini telah kecolongan. Masalahnya adalah semua orang bicara tentang “kasus” bukan substansi. Dan kasus ini sendiri menjadi sedemikian penting di atas masalah-masalah mendasar bangsa ini, pemberantasan korupsi, pengentasan kemiskinan, bahkan yang paling urgen dan menjadi akar masalah utama, perbaikan moral.
Saya tak habis pikir bahwa kasus ini yang harusnya relatif mudah diselesaikan justru diputar lagi, dibicarakan lagi dimana-mana di koran, di tv, oleh artis, pejabat hukum, anggota DPR, seolah tak afdol kalau tak ikut angkat bicara soal ini. sudah tak ada lagikah hal lain yang perlu mereka omongkan daripada membicarakan ‘sampah’ dan (maaf) orang-orang ‘sampah’. Cukuplah kita cukup dorong penegakan hukum dari para pelaku. Lagipula Hukuman sosial dan hukuman tuhan jauh lebih adil. Membicarakan kasus itu terus-terusan malah bak menjadi iklan gratis yang membuat semua orang makin penasaran. Mereka yang harusnya mengurusi hal-hal penting justru bicara hal ginian justru secara tak sadar menurunkan ‘kelas’-nya sendiri. Bagaimana tidak, seorang anggota DPR yang harusnya memikirkan legislasi kita yang runyam ini saja masih ikut-ikutan berurusan. Pejabat polisi yang instansinya sedang dihantam ketidakpercayaan publik juga menjadi lebih sibuk mengurus ini. Seolah ini kasus yang paling besar. Semua seperti sedang memanfaatkan momentum untuk ikut numpang tenar. Saya hanya prihatin saja. Sekumal-kumalnya topi, dia kelasnya dipakai di kepala. Sebersih atau wanginya kaus kaki, kelasnya ya di kaki, bukan untuk mengelap mulut. Saya khawatir kita ini tak lagi sadar dimana ‘kelas’ kita. Tak lagi dapat membedakan dan menempatkan topi dan kaus kaki.