Aku mendengar, aku lupa
Aku melihat, aku ingat
Aku mengerjakan, aku paham
-Konfusius

Kita tentu sepakat bahwa kehidupan kita ini hakikatnya adalah pembelajaran tanpa henti. Setiap saat kita selalu menemui hal baru, meski hanya helaan nafas atau detak jantung, bukankan helaan dan detak itu selalu baru? Ya, semua orang mengalami hal baru setiap waktu sehingga hakikatnya semua orang sebenarnya berproses untuk belajar. Tapi kenapa ada orang yang memang dapat “belajar” dan yang lain tidak? Ada orang yang berkali-kali jatuh di lobang yang sama, kita bilang orang itu “tidak belajar”. Dia mengalami banyak hal dalam hidupnya, usia semakin tua, tapi pengalaman itu tak membuatnya lebih pintar. Di sisi lain ada orang yang bahkan tak perlu mengalami sendiri sebuah peristiwa, tapi dia mampu belajar dari pengalaman orang lain. Kita bilang dia mampu belajar dengan baik, dapat mengambil hikmah, memilih untuk dewasa.
Kalau menurut kategorisasi Konfusius, kebanyakan kita sepertinya masih pada level ‘mendengar lalu lupa’. Kita tiap hari mengalami banyak hal, tapi itu hanya kebiasaan. Hari berlalu, tahun berlalu dan kita tak banyak belajar, tak banyak berubah, kecuali berubah tua
Level kedua adalah ‘melihat lalu tahu’. Melihat,dalam konteks ini menurut saya bukan hanya melihat dalam arti literal, tapi juga merenung, membaca fakta dan menggabungkan, memilah, mengkompilasi, menyimpulkan.

Level ketiga adalah ‘mengerjakan lalu mengerti’. ini adalah tingkatan nyata dari orang belajar. Orang bilang tak hanya pintar berteori tapi menunjukkan karya nyata. Ini adalah tujuan yang paling tinggi dari belajar (menurut taksonomi bloom yang baru).
Orang yang telah tahu ilmu level yang harus dicapai berikutnya adalah menjadi bijaksana, artinya mampu menerapkan imunya dengan tepat. Dia sudah ‘alim dan ‘arif. Mampu memahami dan menempatkan posisi diri sebagai khalifah di muka bumi.

Lalu dimanakah posisi kita? Kalau saya mungkin masih di level kedua bawah, atau malah mungkin masih berkutat di level satu, masih selalu lupa.