Saya termasuk orang yang tak begitu peduli dengan penampilan, utamanya penampilan fisik. Banyak orang yang kadang salah menilai tentang saya, karena saya memang tak dapat membuat impresi atau kesan. Untuk skala pribadi atau skala kecil mungkin tak masalah. Saya malah cenderung cuek terhadap penilaian orang. Tapi dalam skala yang lebih besar, ini tidaklah bagus.
Sebagai contoh, ketika saya harus mempresentasikan sebuah materi, saya tentu tak dapat menyajikan semau gue tanpa memperhatikan audiens. Sedang audiens akan menilai dari penampilan presenter, bukan saja pakaian rapi, tapi juga gaya bicara, tayangan powerpoint, atau pengantar pembicaraan.
Saya pernah membaca buku berjudul Blink! yang memaparkan betapa pentingnya “pandangan pertama”. Konon, dalam sebuah presentasi, dalam 2 menit pertama akan menjadi penentu besar akan keberhasilan presentasi. Strategi 2 menit pertama yang tepat akan membuat sisa waktu menjadi terang dan lancar, dan sebaliknya. 2 menit pertama dapat menjadi representasi dari apa yang akan kita sampaikan bahkan bisa menjadi indikator sejauh mana kualitas kita.
Dalam buku Blink! diceritakan bahwa ada sebagian orang yang mampu melihat kualitas keseluruhan hanya dalam satu kedipan mata. misal dikisahkan tentang museum yang berani membeli patung yang diyakini sebagai peninggalan Yunani Kuno. Ada beberapa pakar yang dalam satu observasi singkat merasa tidak ‘sreg’ dengan patung itu. tapi pihak museum tetap bersikeras dan mengujinya secara fisik melalui uji lab dsb yang menunjukkan bahwa patung itu asli dan kemudian membelinya. Ternyata seiring waktu, terbukti patung tersebut adalah rekayasa. Uji fisik ternyata salah dan intuisi para ahli terbukti benar.
Saya hanya ingin menekankan bahwa impresi, dalam waktu singkat sangat penting. Jika kita sebagai presenter (di seminar, di kelas, di diklat dll) merancang menit-menit awal tak boleh diabaikan. Kalau kita sedang mjd pengamat, kita musti belajar untuk membaca gambaran utuh dari sebagian kecil puzzle. Meski hanya dlm satu kedipan.

Advertisements