Banyak murid menjadi orang-orang sukses, sedang gurunya tetap saja menjadi guru seperti sebelum-sebelumya. Ya, peran guru adalah menyemai benih agar ia tumbuh menjadi pohon kuat, tegar, sehat dan berbuah lebat. Bahkan seorang Umbu Landu Paranggi, yang menjagi guru banyak penyair besar, konon tidak mau disebut sebagai pohon rindang tempat bernaung oleh murid-muridnya, tapi lebih senang disebut sebagai pupuk.
Seorang guru mungkin tak dapat setenar murid-muridnya yang sukses dan itu adalah pilihan. Guru atau trainer mungkin memang perannya sebagai pencetak atau arsitek karena mungkin mereka memang harus di posisi itu. Jikasaja pelatih sepakbola disuruh main di lapangan mungkin dia tak akan mampu. Tapi tanpa pelatih, para pemain juga sangat mungkin tak dapat berprestasi maksimal tanpa pelatih.
Namun, ada juga guru yang memang jiwanya adalah guru. Dia tak mau banyak tampil bahkan bisa jadi misterius, lebih suka di jalan sunyi yang jauh dari hiruk pikuk dan popularitas. Dia cukup tersenyum ketika melihat muridnya sukses, tak pula menepuk dada.

Dalam skala dunia kita mengenal Syamsuddin di belakang Jalaludin Rumi, ada Anne Sullivan di belakang Helen Keller, ada Khidir di belakang Musa, ada banyak guru di belakang orang-orang besar yang penuh misteri dan kita tak tahu persis sosoknya.
Kata Umbu Paranggi, guru yang lebih suka bersembunyi ini, setiap orang memiliki magnet yang dapat menjadi daya tarik dari jiwa orang lain. Guru sejati adalah yang memiliki magnet ini bahkan dapat menularkan daya tarik magnet ini ke murid-muridnya, tanpa pamrih dan lebih setia menyusuri jalan sunyi.