Saya selalu tertarik bahkan terpesona dengan sejarah peradaban manusia. Entah itu dari sudut dunia mana, entah dari masa sejarah kapan atau malah pra-sejarah. Entah dengan agama atau kepercayaan apa. Saya percaya bahwa sebuah peradaban muncul dan tumbuh dari inspirasi ataupun pengaruh peradaban sebelum-sebelumnya, sekecil apapun itu. Saya juga percaya bahwa di setiap sejarah akan ada pendekar dan pencoleng, ada orang bijak bestari ada penjahat yang kejam tak berperi.
Dari tiap peradaban meninggalkan jejak yang mestinya menjadi cermin bagi kita membangun peradaban kita sekarang. Alangkah banyak pesan-pesan itu hilang ditelan waktu, bencana alam, bencana kemanusiaan atau yang lain. Ada saja di tiap peradaban, orang-orang para pembangun yang mewariskan kebijakan agung berabad-abad, ada juga kita baca mereka yang dengan sengaja menghancurkan kebudayaan, membunuh, membakar buku, menghancurkan warisan kebudayaan. kita akan banyak belajar dari titik-titik penting seperti Makkah, Madinah, Yerusalem, Jericho, Catal Huyuk, Yunani Kuno, Mesir kuno, Babilonia, Asia kecil, Sumeria, Cina, dan banyak lagi.
Kita tak tahu persis apa saja puncak pencapaian peradaban yang telah dicapai, atau pesan yang ingin mereka sampaikan kepada kita yang mungkin berjarak ribuan tahun setelahnya. Sebagaian hanya menyisakan misteri semisal Moai, patung-patung berukuran raksasa di Easter Island, atau Nazca Lines, lukisan berukuran raksasa di Peru (yang hanya dapat disaksikan dari udara). Sebagian lain lagi hanya menyisakan mitos, seperti Atlantis.
Kita, di jaman sekarang ini, tak selayaknya menepuk dada bahwa kita ini menjadi komunitas atau umat paling “beradab”. Jika saja kita hidup di masa prasejarah, barangkali tak akan sehebat mereka yang melukis kehidupan di gua-gua, atau yang berburu gagah berani, tapi mungkin hanya jadi pengecut yang berburu paling belakang, atau yang makan dan hidup dari belas kasihan komunitas.

Hari ini saat saya dan anak isteri mengunjungi Candi Borobudur. Salah satu mahakarya leluhur yang spektakuler. Tak terpikir bagaimana orang dahulu, dari negeri sendiri ini dapat membangun karya agung macam ini pada jaman itu. Bukan itu saja, kita sendiri mungkin tak banyak tahu pesan apa yang ingin disampaikan melalui batu-batu itu, melalui pahatan-pahatan reliefnya, melalui undak dan stupanya. Atau apakah kita hanya mampu melihat itu sekedar seonggok batu berukir tanpa makna?