Bagi mereka yang punya anak remaja, hari hari ini barangkali menjadi hari-hari yang penuh was-was. Hampir tiap hari di media gencar diberitakan tentang skandal artis yang videonya sudah menyebar kemana-mana itu. Dan sekali lagi internet dituding sebagai media paling bertanggung-jawab.
Saya cukup sedih juga karena ketika beberapa waktu lalu saya baca bahwa minat akses ke situs dewasa mulai turun dan pengguna lebih senang membuka jejaring sosialnya, kini berita skandal itu malah seperti iklan gratis dimana orang justru menjadi tertarik atau penasaran.
Tak pelak banyak orang tua dan guru kembali menjadi paranoid dengan internet dan media berbasis teknologi lain. Ada juga muncul usulan pemblokiran situs-situs tertentu.
Saya sendiri cenderung percaya bahwa benteng terkuat dari informasi negatif di era global ini adalah kesadaran diri sendiri. Larangan ke anak-anak untuk main ke warnet atau bergaul lewat pertemanan online alih-alih membuat mereka menjauh, bisa jadi membuat mereka malah penasaran.
Saya cenderung percaya bahwa banjir informasi negatif internet hanya paling ampuh diminimalisasi dengan informasi positif. Ada banyak hal menarik di internet yang dapat diperoleh dari internet. Sudah saatnya kita pacu anak anak kita untuk eksis secara positif di internet, untuk berkreasi dan aktualisasi di dunia online. Memutus merek dari internet justru memutus mereka dari jamannya. Akan lebih penting bagi kita para orangtua dan pendidik untuk justru terjun di dunia maya ini dalam rangka memberi arahan kepada anak-anak kita untuk berjalan di koridor yang benar. Agaknya perlu dibuat dan diciptakan gerakan tandingan di internet ini bahwa pornografi sudah tidak jamannya lagi, tidak keren dan tak penting. Masih ada banyak hal dapat diperoleh dari internet. Perlu digalakkan bahwa internet bukanlah media pornografi, tapi media belajar, berkarya, berbisnis, berprofesi masa depan.
Cuma, kita harus membentengi dengan tepat anak-anak kita dengan moralitas dan pendidikan yang akan menjadi benteng terakhir yang terkuat.

Advertisements