Apakah yang anda ingat apa yang anda dapat waktu sekolah? Sebagian besar pasti hafalan dan hafalan dari rumus matematika sampai nama menteri kabinet pembangunan. Kita bahkan mungkin tak pernah tahu apa yang kita hafalkan itu ada gunanya. Ini salah satu yang membuat belajar tak bermakna. Kata pak Ausubel, belajar seseorang harusnya memiliki kaitan-kaitan dengan apa yang telah diketahui atau dipelajari sebelumnya. Bila memang benar-benar baru dan belum pernah diketahui, baru dihafalkan.
Kawan saya pernah menasehati salah satu kawan yang lain, sebut saja si fulan, karena dia suka memanggil orang dengan sebutan yang kurang enak, meski tujuannya untuk lucu-lucuan saja. Ada ayat Quran yang melarang memanggil dengan gelaran buruk. Belakangan si fulan marah marah karena adiknya menyebut istri fulan alias kakak iparnya dengan sebutan tak enak. Disini baru pembelajaran tentang “gelaran buruk” menjadi bermakna bagi si fulan, tak sekedar hafalan dan doktrin.
Ketika saya dulu belajar kalkulus integral selalu dapat nilai jelek dan tak pernah paham bahwa hakikat integral bukannya rumus-rumus “thokolan” memusingkan itu tapi lebih kepada bagaimana memecahkan masalah rumit dengan dibagi menjadi kecil-kecil, dipecahkan lalu digabung menjadi solusi atas masalah besar tadi. Sehingga hikmah kalkulus integral tak cuma berhenti di bangku kuliah saja.
Belajar tak hanya menjadikan sekedar tahu, tapi menjadikan hidup menjadi berkualitas dengan pengetahuan itu.
Kalau kita menjadi guru, pembelajaran bermakna inilah yang mestinya kita kedepankan kepada siswa, anak-anak dan siapapun, bukan mencekoki dengan doktrin. Ini juga bagi kita sendiri. Jangan pernah henti belajar, dari buaian sampai liang lahat. Jangan pernah menganggap belajar telah usai ketika lulus atau wisuda. Pembelajaran bermakna hakikatnya justru kita dapat dari kehidupan. Dengan belajar kita juga dapat lebih memaknai hidup dan menghargai kehidupan.

Advertisements