Jika anda seorang guru atau trainer, anda tentu pernah mendapati adanya siswa atau trainee yang berulah. Terkadang hanya ingin membuat kelas tidak fokus atau yang paling parah menjadi dia menjadi destroyer.
Ada banyak faktor kenapa sampai seseorang menjadi destroyer kelas. Barangkali dia butuh perhatian atau merasa paling pintar. Si destroyer ini bisa menjadi biang masalah yang akan berimbas kepada semua orang.
Guru atau trainer benar-benar harus ekstra sabar menghadapi ‘orang sulit’ macam ini. Suatu ketika saya pernah menghadapi kondisi seperti ini.
Seorang peserta benar-benar membuat jengkel. Yang paling saya dongkol adalah dia berlagak bertanya dan kadang nyeletuk bernada meremehkan beberapa penyaji tamu yang saya undang, padahal para penyaji itu orang2 sangat saya hormati. Ketika saya giliran menyajikan dia benar-benar membuat saya tak tahan. Dan saya sempat berbicara dengan nada agak tinggi menyanggahnya. Kelas menjadi tidak nyaman. Belakangan saya sadar bahwa sikap saya itu kurang tepat. Sebagai fasilitator saya harusnya lebih arif atau paling tidak harus punya strategi menghadapi tipe destroyer ini. Maklum, saat itu “I was so young and unexperienced.”

Dalam kesempatan lain saya, ketika itu jadi peserta, pernah menghadapi kondisi yang mirip, meski tak separah pengalaman saya. Ketika fasilitator bercerita lucu tapi agak satir, ada peserta kurang terima dan protes keras dan emosional. Saya berpikir, sejurus lagi kelas pasti kelas menjadi tidak kondusif. Tapi ternyata fasilitator tidak terpengaruh, tidak emosional. Pembicaraan berganti, sesi berlanjut seolah tanpa ada apa-apa.
Disini saya belajar bagaimana trainer harus punya daya resilience yang besar. Dalam bahasa awam: tahan banting. Guru atau trainer harus lebih sabar dari siswa atau trainee, meski paling menyebalkan sekalipun. Dan ini harus dilatih terus (Saya teringat adegan di film Ron Clark Story ketika clark menghadapi kenakalan para siswanya).
Disini kendali ego dan resilience menjadi sangat penting bagi seorang guru/trainer.