Sentuhan, dalam arti harfiyah, teramat penting dalam tumbuh kembang anak. Konon ketika masih bayi, salah satu stimulus perkembangan otak adalah sentuhan-sentuhan lembut di kulit atau pijatan-pijatan ringan di punggung, usapan di dada atau kepala. Bahkan ketika tumbuh dewasa pun sentuhan masih cukup penting. Banyak diantara kita tak lagi membelai atau memberi pelukan hangat bagi anak-anak ketika mereka mulai tumbuh remaja. Tragisnya malah terkadang tak lagi sentuhan hangat malah bisa jadi sentuhan yang ada adalah hukuman fisik; mencubit, menjewer, memukul, dll. Padahal alih alih hukuman fisik membuat anak sadar, justru itu akan menciptakan baju baja yang membuat mereka kebal dan dapat memberi jarak atau memutus komunikasi orangtua anak. Kalau anda pernah mengalami perlakuan semacam itu, baik dari orang tua atau guru, apakah anda menyukainya?
Saya selalu teringat ketika beberapa kali saat saya sakit yang lumayan parah, nenek saya datang menengok dan memijit kaki saya. Pijitan hangat ini mungkin tak ada pengaruh medis apalagi nenek saya tak paham soal pengobatan sama sekali, tapi pijatan sederhana ini, entah kenapa, membuat saya menjadi merasa lebih nyaman dan tenang.
Sentuhan kepada anak memberikan jalan yang lebih mudah untuk menyentuh hatinya. Kalau anda ingin bicara hati ke hati dengan anak, mulailah dengan sentuhan lembut untuk menunjukkan sinyal bahwa anda peduli dan menyayangi.
Dalam konteks pembelajaran, sentuhan kadang juga menjadi penting, baik di sekolah atau dalam diklat. Siswa/trainee yang minder misalnya, dapat disentuh di bahu untuk memberi rasa nyaman, membesarkan hati dan memberikan pesan bahwa guru/trainer peduli. Namun untuk konteks ini saya tidak menyarankan jika berhadapan dengan lawan jenis.
Secara manusiawi sentuhan fisik dapat memberi pengaruh besar kepada psikis. Sentuhan yang hangat, lembut, dan penuh kasih akan memberikan efek positif bagi kondisi psikologis. Sentuhan kasar dan hukuman fisik malah memberi efek negatif, tidak produktif dan menyakitkan secara fisik dan psikis.