“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu,” kata Khalil Ghibran. Ghibran menunjukkan kepada kita bahwa anak bukanlah miniatur atau robot yang kita ciptakan. Setiap anak adalah dirinya sendiri yang berbeda dengan diri kita. Dalam pendidikan yang sesungguhnya, mendidik anak bukan sekedar mentransfer ilmu, bukan menciptakan robot tapi membantu anak-anak menemukan dirinya sendiri. Mendidik anak sekarang tentu harus berbeda dengan zaman kita dulu. Generasi sekarang sudah sangat berbeda. Generasi kakek kita berbeda dengan generasi bapak kita. Generasi bapak kita berbeda dengan generasi kita dan berbeda dengan generasi anak kita. Di Barat, ada istilah untuk membedakan generasi-generasi ini. Ada generasi Baby boomers, generasi X, generasi Y dan Generasi Z.

Dalam beberapa referensi generasi ini diklasifikasikan berdasar tahun kelahiran. misalnya Pre Baby Boom (lahir pada 1945 dan sebelumnya), The Baby Boom (lahir antara 1946 – 1964), The Baby Bust (lahir antara 1965 – 1976) – Generasi X, – Generasi Y (lahir antara 1977 – 1997), – Generasi Z/Generation Net (lahir antara 1998 hingga kini). Namun saya lebih cenderung membedakan generasi berdasar perkembangan teknologi di masyarakat bersangkutan. Lebih khusus saya akan fokus di generasi Y. Kalau di Barat generasi Y ini lahir antara 1977-1997 (ada juga yang bilang antara 1980-2000), dalam konteks Indonesia saya lebih cenderung kepada generasi yang lahir 10 tahun lebih muda (dengan alasan bahwa kita ketinggalan dalam hal teknologi sekitar 10-15 tahun). Jadi generasi Y, atau disebut sebagai generasi milenium, menurut konteks Indonesia lahir pada tahun 1990an sampai sekitar 2010an. Dan kenapa saya fokus di generasi Y, karena ini generasi saat ini mulai tumbuh (usia sekolah awal) yang patut menjadi perhatian khusus kita (Generasi Z/platinum mungkin akan masih jauh lagi dan lebih kompleks untuk dibicarakan).

Generasi Y memiliki beberapa ciri-ciri khusus di antaranya :

  1. Percaya diri dan optimis. Lebih terbuka dan menerima perubahan.
  2. Tidak sabaran karena terbiasa dengan hal instan, tak mau rugi dan banyak menuntut (ini dampak dari kepercayaan diri yang tinggi).
  3. Family centric/lebih dekat pada keluarganya. Generasi sebelumnya anak-anak seringkali ditinggalkan orang tua bekerja, sedang pada generasi Y, orang tua banyak meluangkan waktu bersama keluarga.
  4. Suka inovasi.
  5. Memiliki semangat yang besar.
  6. Tidak menyukai jadwal yang ribet dan detail dan birokratis
  7. Anytime-anywhere. Dimanapun kapanpun dapat menghasilkan sesuatu (ide atau produk) tanpa peduli norma tempat dan waktu. Misalnya mengerjakan pekerjaan kantor menggunakan laptop+internet dari kafe atau di rumah sambil sarungan.
  8. Cara berkomunikasi. Lebih nyaman menggunakan media berbasis teknologi.
  9. Bagaimana mencari informasi atau belajar. Semua serba mudah dengan internet, guru tak lagi berposisi sebagai “tahu segalanya”. Semua yang ingin diketahui dapat dicari di Google.
  10. Ciri paling menonjol adalah mereka terbiasa hidup dengan teknologi canggih. Laptop, komputer, gadget adalah keseharian mereka sejak kecil.

Saya pernah mengunjungi daerah yang cukup terpencil di Sulawesi. Di sana susah untuk cari koneksi internet. Tapi guru di sana mengeluh kalau siswanya sudah pada kecanduan Facebook (pakai HP)! Saya justru balik bertanya, bukankah itu sebuah peluang. Kalau anak-anak sudah biasa Facebook dan mereka menggemarinya, apa salahnya guru memanfaatkan facebook sebagai media belajar? Ini contoh saja. Saya sangat yakin ketika nanti generasi ini sudah dewasa dan masuk dunia kerja, budaya kerja dan jenis pekerjaannya sudah akan berubah secara revolusioner. Nah, saat ini mereka masih di awal pendidikan, bukankah tanggungjawab kita mendidik mereka untuk siap dengan perubahan itu, untuk siap memasuki dunia kerja abad 21. Tanpa dibekali dasar yang cukup dan mendidik/mengajari mereka dengan cara pendidikan generasi kita, mereka pasti akan tergilas zaman. Dan sebaliknya. Jika kita mendidik dan menyiapkan mereka memasuki abad 21 dengan dasar dan cara yang benar, mereka pasti akan menjadi pemenang. Anda mungkin tidak percaya bahwa saat ini banyak orang bekerja sebagai blogger di dunia maya dengan penghasilan ribuan dolar. Bayangkan apa yang terjadi 10 tahun lagi ketika anak-anak kita sudah mulai masuk dunia kerja!

“Anak-anakmu bukanlah anak-anakmu,” kata Khalil Ghibran. Ya, mereka adalah anak-anak zaman.

Advertisements