Peribahasa mengatakan “Malu bertanya sesat di jalan.” Orang kemudian menambahkan pelesetannya “banyak bertanya, memalukan.” Anak yang banyak bertanya bisa jadi merupakan indikasi bahwa si anak ini adalah cerdas, punya rasa ingin tahu yang tinggi, haus akan pengetahuan dan kreatif. Namun, ketika banyak orang yang menganggap banyak tanya itu tidak baik dan diam adalah emas maka fase pembentukan kreatifitas anak lalu mandeg atau terhambat. Ini kalau kasusnya terkait dengan anak.
Bagaimana jika yang banyak bertanya itu orang dewasa dan pertanyaan yang diajukan selalu yang tidak penting, diulang-ulang, atau sesuatu yang lumrahnya orang sudah tahu atau mudah dicari jawabannya. Ini baru mungkin pelesetan peribahasa itu ada benarnya. Saya bicara di konteks forum baik seminar, diklat, atau forum online macam milis, threaded forum, dll.

Orang bertanya bisa karena dia tidak tahu lalu ingin tahu, atau mengetes atau dia malas mencari jawaban sendiri. Kalau kita mau bertanya dan pertanyaan itu tak penting, atau sudah umum diketahui , atau sudah sering ditanyakan, cobalah menahan diri. Cari tahu dulu apakah pertanyaan itu penting dan cukup relevan, sudahkah kita mencoba mencari jawaban sendiri, ataukah pertanyaan serupa itu sudah pernah dilontarkan. Dalam forum orang dewasa saya merasakan ada semacam sindrom untuk berekspresi, baik bertanya atau berbagi. Dan seringkali agak ngelantur (saya kira ini salah satu dampak dari andragogi yang terlalu longgar). Banyak hal yang tidak relevan bisa muncul dan relatif menjadi agak mengganggu. Nah, jika Anda berlaku sebagai penanya tentu harus berhati-hati dalam memformulasikan pertanyaan atau mengukur relevansi pertanyaan dengan topik pembicaraan. Selain itu jangan bertanya dengan nada seolah-olah kita tak tahu apa-apa. Carilah kemungkinan jawaban pertanyaan anda di Google. Jika jawaban tak diketemukan atau kurang lengkap baru tanyakan pertanyaan itu beserta apa yang sudah anda ketahui tentang gambaran jawabannya. Ini menunjukkan bahwa anda sudah berusaha mencari jawaban dan bukan karena malas.

Saya seringkali dalam berbagai kesempatan selalu mencari referensi dari topik yang dibicarakan langsung di Google menggunakan HP. Mungkin sambil agak sembunyi-sembunyi karena di lingkungan kita “bermain” HP saat orang berbicara dianggap tak sopan kalo pegang HP. Tapi bagi saya itu tak masalah lha wong kita browsing di HP itu dalam rangka memperdalam apa yang dibicarakan dan bukan untuk chatting atau SMS-an. Googling juga cukup membantu kita mengkonstruksi puzzle permasalahan dan memberikan pemahaman yang lebih baik.

Kalau sudah demikian, nampaknya peribahasa di atas perlu ditambah lagi yaitu: “sebelum bertanya ke orang, tanya dulu ke Mbah Google”. Sebanyak apapun dan sebodoh apapun pertanyaan anda ke Mbah Google, tidak akan membuat kita tampak konyol dan memalukan.

I will use Google before asking dumb questions – Bart Simpson

Advertisements