Jika ditanya siapakah pembunuh kreatifitas anak yang paling bertanggung jawab? Bisa jadi jawabannya akan sangat mengagetkan. Mereka adalah orang tua dan guru. Kita nampaknya agak kurang beruntung dimana berada dan tumbuh di lingkungan yang kurang begitu memperhatikan tumbuh kembang psikologis anak. Sejak kecil banyak di antara kita dihadapkan pada dunia yang penuh larangan dan batasan. Anak yang banyak bertanya bagi banyak orang mungkin menjadi hal yang menjengkelkan bagi orang tua dan guru.

Rasa ingin tahu anak yang besar seiring perkembangan usianya menjadikan anak cenderung ‘usil’. Bukan hanya itu, setiap anak memiliki keunikan sendiri-sendiri dan keunikan dalam belajar. Ada anak yang bertipe visual (senang dengan hal visual), auditori (senang dengan hal terhait suara) maupun kinestetis (senang bergerak). Jika Anda pernah membaca kisah Toto Chan tentu Anda akan sedikit banyak tahu tentang hal ini. Berapa banyak anak yang langsung terdiam seribu bahasa ketika banyak bertanya dan lalu divonis sebagai anak usil dan dibentak untuk duduk diam manis layaknya anak pintar Atau anak yang tak bisa diam berlama-lama di kelas, tak tahan melipat tangan di meja mendengarkan guru dengan baik, lalu dicap sebagai anak liar yang tak dapat dididik.

Banyak sekali dunia pendidikan kita masih dalam paradigma lama dimana anak pintar dan baik adalah yang duduk diam manis, tak banyak membantah, tulisannya bagus dan rapi, dan anggapan lain yang barangkali tak sepenuhnya benar. Banyak anak-anak kita kehilangan keceriaan seperti waktu di TK. Hari pertama ketika anak masuk SD berbinar binar dengan seragam putih merah, tas baru, buku baru dan harapan bahwa sekolah lebih tinggi akan lebih menarik dan menyenangkan daripada di TK. Nyatanya, hanya dalam beberapa hari semua berubah total. Sekolah menjadi dunia monoton, tak ada kesenangan, tak ada menynti, tak ada bermain, tak ada mendongeng, yang ada adalah membaca dan menghitung yang serba rumit dan tak masuk akal, PR yang menumpuk, guru yang membosankan, dan seabrek peraturan dan larangan. Anak menjadi semakin pasif tak lagi berani bertanya dan menjadi seperti ‘robot’. Satu bentakan guru atau orangtua menyuruh untuk diam bisa jadi menjadi palu godam yang mematikan bagi tumbuhnya kreatifitas. Sayangnya banyak guru dan orang tua tak menyadarinya.

Saya pernah membantu mengajar anak SD di kampung. Cukup prihatin saya menghadapi anak-anak yang pasif, takut berpendapat, takut maju di depan kelas, padahal mereka duduk di kelas 5 dan 6. Setelah saya amati ternyata hal ini karena keseharian pembelajaran anak memang seperti itu. Padahal setelah saya coba lebih interaktif, anak dibiasakan maju di depan, mereka ternyata cepat sekali menyesuaikan diri. Rasa tidak percaya diri mereka ternyata tumbuh dengan cepat. Bukan itu saja, pada tugas mengarang yang saya beri perhatian khusus, banyak anak yang memiliki bakat menulis luar biasa yang selama ini tak pernah diasah. Bagi saya, murid harus dihargai sebagai seorang manusia, bukan sebagai anak kecil yang tak tahu apa-apa. Guru adalah motivator yang harus benar-benar mengerti kondisi anak didik. Dalam banyak hal guru harus rela ‘mengalah’ atau meyisihkan ego pribadi demi keberhasilan murid. Hal ini berlaku juga bagi para orangtua.
Terkadang Kita harus dapat melihat anak dari sudut pandang yang lain. Ada orang tua mungkin marah besar melihat coretan anak di dinding tembok. Tapi orang tua yang lain melihat coretan di dinding itu adalah karya seni luar biasa, sebuah masterpiece.