Ini cerita belasan tahun lalu. Saya masih sekolah MI (setingkat SD). Saya mengayuh sepeda dengan santai. Adik saya membonceng di depan, sambil berdiri. Anak-anak TK riuh rendah di jalan, ada yang bergurau bermain ada pula yang bertengkar sampai menangis.Kebanyakan anak TK di kampung saya memang bersekolah tanpa diantar jemput, alias berangkat dan pulang bersama teman sekolah. Saya kadang menjemput adik saya karena sedang libur atau pulang lebih awal. Di sebuah perempatan saya berbelok ke kanan. Namun saya berubah pikiran, saya balik lagi ke perempatan itu dan mengambil jalan lurus. Tiba-tiba ada anak-anak yang bergurau atau mungkin bertengkar sehingga tidak melihat jalanan. Saya hampir menabrak anak itu kalau tidak banting stir. Parahnya kemudi sepeda saya alihkan ke samping yang ternyata adalah selokan yang cukup dalam. Tak ayal saya, adik saya dan sepeda mini yang saya tumpangi terjun bebas ke selokan yang berisi lumpur dan kayu yang direndam. Saya hanya luka kecil dan penuh lumpur, sedang adik saya memar di wajah entah karena terbentur sepeda atau kayu. Darah kental keluar dari hidungnya dan garis kehitaman membekas di bawah kedua matanya yang berminggu-minggu masih belum hilang juga. Perasaan takut gemetaran, perasaan bersalah, bercampur aduk. Juga penyesalan kenapa harus balik ke perempatan itu untuk mengambil jalan lain sehingga harus mengalami hal yang buruk. Seandainya saja tadi terus saja belok ke kanan tentu tak akan mengalami itu.

Jika teringat akan kejadian itu, saya jadi berfikir bahwa kehidupan kita sebenarnya seringkali mengalami kejadian serupa, dalam bentuknya yang beragam tentunya. Yang saya maksud adalah mengalami “perempatan” dimana kita harus menentukan jalan yang harus kita pilih. Pada titik-titik tertentu kita dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Kita tak tahu pilihan apa yang semestinya kita ambil dan apa pula resiko dan konsekwensi yang nantinya akan menghadang. Di titik ini kadang kita tak dapat balik lagi untuk mengambil pilihan lain.

Mungkin kita akhirnya dapat menghela nafas lega ketika ternyata apa yang menjadi pilihan yang kita ambil ternyata sudah sangat tepat. Namun, tak jarang sebaliknya, pilihan yang kita ambil ternyata jauh dari harapan atau bahkan menjadi pilihan buruk. Kalau sudah begini seringkali penyesalan kemudian menjadi hantu yang membayangi kita. Penyesalan kenapa pilihan yang salah yang kita ambil. Lalu kita merutuki kebodohan sendiri, menyalahkan diri sendiri atau bahkan membuat kita stuck, mogok dengan hidup dan kehidupan kita. Saya mungkin termasuk yang agak parah menghadapi perasaah bersalah dan penyesalan yang dapat berlangsung cukup lama.
Namun, setelah mengalami banyak “perempatan” dan pilihan untuk menjalani hidup, saya harus bersikap fair dan arif, terutama pada diri sendiri. Perasaan bersalah, penyesalan akan sebuah pilihan hanya akan membuat diri kita semakin terpuruk dan layu, menggerogoti energi hidup. Kita mustahil membalik waktu lagi. Satu-satunya pilihan sekarang adalah meneruskan jalan kita lagi, untuk kemudian akan bertemu “perempatan” lain yang harus kita pilih lagi. Jika pilihan yang baru pun ternyata keliru dan kita kembali menyalahkan dan menghukum diri, lama-lama kita sendiri akan hancur.
Satu-satunya cara adalah kita harus siap menghadapi pilihan-pilihan hidup. Jika memungkinkan, pilihan diambil berdasar perhitungan dan rasio. Jikapun kita tetap harus memilih, dengan tanpa tahu resiko apa yang nanti ditemui, ucapkan “Bismillah” biarlah Tuhan yang akan membimbing kita. Apapun yang akan terjadi adalah kehendak-Nya jua. Meski nanti mengalami hal buruk sekalipun. Pilihan kita mungkin buruk, tapi siapa yang tahu bahwa pilihan lain, yang tidak kita pilih bisa jadi jauh lebih buruk dan mengerikan. Ingat pula jika rasa sesal itu datang, kita telah meminta pertolongan Tuhan sejak langkah awal, tidak ada gunanya menyiksa diri. jauh lebih baik ubagi kita untuk mengambil pelajaran dari semuanya dan semakin mendekatkan diri kepada Nya.

“Rabbi adhilni mudhala shidqin waakhrijni mukhraja sidqin waj’alli milladunka sultonannashira”
“Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.(Al Isra’ 17:80)

Advertisements