Setiap kali melihat seseorang yang kita kenal ataupun tidak, meskipun cuma sekilas, dalam benak seringkali akan muncul impresi, pikiran atau asosiasi atau terbersit sesuatu yang bisa jadi baik atau jelek. Kalau bertemu orang yang bertampang tampan atau cantik kita mungkin akan kagum atau lalu mengasosiasikan dengan bintang film. Yang jadi masalah adalah ketika kita bertemu dengan orang yang fisiknya aneh, jelak atau tidak biasa. Misalnya bentuk wajah, gigi, rambut, penampilan, baju atau yang lain. Dalam hati kita bisa saja menertawakannya karena kita merasa ‘lebih baik’ dari dia. “Meski wajah jauh dari ganteng, ternyata masih ada orang lain yang lebih ‘parah’ dari kita,” bisik kita dalam hati, memuji diri secara terselubung.
Setiap kali kejadian semacam ini saya lalu berfikir, tak seharusnya saya bersikap begitu, meskipun itu jauh di lubuk hati dan bahkan orang yang kita pikirkan itu sama sekali tidak tahu. Tapi ini masalah sikap hati. Jika dibiarkan dapat memicu kejelekan kita yang lain: kurang bisa menghargai orang, kurang peduli, dsb. Dalam kondisi seperti ini saya lalu berfikir, bukankah mereka dengan kondisi fisik seperti itu meski berjuang lebih dari kita ini.

Bayangkan apa yang dirasakan orang yang kebetulan memiliki gigi yang tonggos tak terkendali? Lucukah itu? Apakah bayangan kita itu seperti lawak di TV dengan artis semacam itu yang membuat kita terpingkal-pingkal? Ketika berfikir ulang di kedalaman hati saya menjawab, sama sekali tidak lucu. Bayangkan apa yang dia hadapi setiap hari? Apakah pujian dan kekaguman? tentu tidak. Mungkin hanya ledekan yang tak pernah henti meski hanya gurauan-gurauan sehari-hari. Tegarkah saya menghadapi beban berat itu jikalau menjadi dia? Mungkin tidak.

Saya lalu berusaha di hati kecil saya, setiap kali bertemu seseorang yang berwajah atau berpenampilan “tidak biasa” apalagi mungkin yang cacat, pikiran bahwa orang itu aneh, lucu, atau sebangsanya hanya saya biarkan sekian detik muncul. Saya akan berfikir betapa beratnya hidup kesehariannya dengan kondisi itu. Saya lalu berusaha menebus perasaan bersalah karena telah berfikir kurang baik atau sedikit ‘melecehkan’ tadi dengan membacakan Fatihah baginya atau mendoakannya untuk tegar menghadapi hidup dan supaya Tuhan memberikan kemudahan di setiap langkahnya.

Advertisements