Program 100 hari Departemen Pendidikan Nasional salah satunya adalah menyambungkan 17.500 sekolah di Indonesia ke internet. Dalam perkembangannya kini program in seperti dinyatakan oleh Mendiknas, M.Nuh telah melebihi target yang direncanakan. Belum genap 100 hari kini telah tersambungkan 18.358 titik sekolah yang sudah yang terkoneksi ke internet.(http://www.detikinet.com/read/2010/01/05/153309/1272097/328/18358-sekolah-tersambung-internet)

Ada beberapa hal yang menjadi pemikiran saya selama ini. Dalam beberapa waktu terakhir kita telah banyak mendengar tentang pentingnya peranan ICT dalam dunia pendidikan. ICT menjadi media yang ampuh dalam menjembatani kesenjangan akses ke sumber-sumber informasi yang bermanfaat bagi pendidikan. Namun perlu diingat bahwa euforia pemanfaatan ICT ini harus disikapi secara berhati-hati. Saya menangkap kesan bahwa ICT telah cenderung dipakai sebagai jargon yang agak berlebihan. Perlu diingat bahwa ICT hanyalah perangkat/tools dan kita tak sepatutnya mendewa-dewakannya. Perangkat tak banyak berarti jika orang di belakangnya (man behind the gun) tak mampu memanfaatkan secara maksimal. Bagaimana jika seseorang di belakang meriam tempur akan menembak sasaran jika dia tak dapat menggunakannya? Perangkat internet, komputer atau perangkat teknologi lainnya hanyalah perangkat. Selama pengguna tak mampu menggunakan secara maksimal maka perangkat itu hanya akan menjadi onggokan. Pengadaan internet atau komputer adalah hal mudah tinggal buat anggarannya, pasang, selesai. Yang jauh lebih sulit adalah membudayakan pembelajaran ICT ini, seberapa banyak orang “belajar” dengan ICT dengan benar? bagaimana pemanfaatan ICT dengan benar? dan segudang pertanyaan yang sulit dijawab.
Saya teringat ketika seorang pakar berbicara tentang e-government, pemanfaatan ICT di pemerintahan. Ketika diterapkannya e-government diupayakan agar terjadi pengurangan biaya operasional dan peningkatan productifitas, low-cost high-productivity, yang dikhawatirkan sekarang terjadi justru sebaliknya, high-cost low-productivity karena kita dibebani kebutuhan pengadaan perangkat ICT dan disibukkan mengurusi pernik-pernik teknis.

Advertisements