Semakin besar keuntungan yang didapatkan ternyata tak membuat orang puas juga. Korporasi dan perusahaan besar yang sudah memiliki untung besar-besaran ternyata tak juga lepas dari praktik-praktik yang cenderung menipu dan merugikan konsumen. Berapa banyak kita dengar kasus ketika operator ponsel menyedot pulsa hanya karena kita, secara sadar atau tidak, ikut program SMS premium, diimingi konten gratis dan ketika kita mengetik REG dan dikirim ke nomor tertentu ternyata tak seperti yang diiklankan, kirim SMS nya memang gratis tapi kita akan ditarik biaya berlipat ketika tiap hari kita dikirimi SMS tidak penting.

Ada pula perusahaan besar sekelas TELKOM. Beberapa bulan ini tagihan telepon rumah kontrakan saya membengkak. Padahal kami jarang menggunakan. Suatu hari ada telepon dari TELKOM yang menawarkan program paket flat 65 ribu/bulan dan kita akan mendapat kesempatan bertelepon gratis, UNTUK JAM 11 MALAM SAMPAI JAM 5 PAGI! Tentu saja tawaran ini ditolak karena kami tidak memerlukan, bahkan sebenarnya tak membutuhkan sambungan telepon rumah karena sudah ada HP (kami terpaksa pakai karena rumah kontrakan saya ini sudah pasang dari sononya). Operator tadi bilang bahwa ini wajib untuk ujicoba. Hah? Setelah beberapa waktu ternyata rekening bengkak. Sya kira hanya untuk satu bulan karena untuk ujicoba jadi saya biarkan saja, ternyata bulan-bulan berikutnya tetap saja dikenakan biaya tersebut. Akhirnya saya telepon 147 dan ternyata benar kami diikutkan program R65K atau apalah yang minimal membayar 65 ribu sebulan. Saya tanyakan bahwa kami tak pernah ikut program itu, dibilang bahwa kami telah dihubungi dan mengiyakan untuk mengikuti program tersebut! Halah, ini tentu saja membuat merah kuping. Kami merasa tak pernah mengiyakan kok diklaim seperti itu. Bahkan sama sekali tak ada hitam-putih perjanjiannya. Apa sekedar ditelepon dan “dipaksa” oleh TELKOM lalu itu menjadi dasar untuk membebani konsumen sedemikian rupa? Tak pernah ada bukti bahwa kami menyetujui ikut program ini.

Saya sangat menyesalkan bahwa perusahaan sekelas TELKOM ini masih mempraktekkan gaya bisnis tak terpuji macam ini. Padahal konon gaji pegawai TELKOM ini berlipat-lipat besarnya dibanding gaji PNS saya. Keuntungan dan penghasilan berlebih tak berbanding lurus dengan sifat terpuji?