“Biarkan kegelapan itu datang. Tak perlu lari tak perlu sembunyi, karena kita akan nyalakan cahaya”

Kata-kata ini saya tulis di buku yang saya kasih sebagai hadiah bagi anak teman saya. Saya sudah kepikiran untuk memberikan kado ulang tahun ini sudah agak lama dan dengan alasan khusus. Anak teman saya ini terlahir buta-tuli karena lahir prematur. Jarang-jarang saya menanyakan kabar anak teman saya ini karena saya tidak tega jika mendengar perkembangan pertumbuhannya. Dalam usia genap setahun tak banyak kemajuan yang signifikan. Tak bisa membayangkan bagaimana dunia anak ini, gelap dan sepi. Tak dapat membayangkan apa yang menjadi persepsinya ketika menghadapi dunia, mungkin hanya dapat merasakan sentuhan. Tak dapat membayangkan bagai mana bingungnya orangtuanya untuk membesarkan dan mendidiknya.
Buku yang saya beri sebagai kado ini juga saya pilihkan khusus, tentang biografi singkat Helen Keller. Membaca halaman demi halaman buku inipun saya seperti merasa tercekat di tenggorokan. Buku berjudul “Wanita Pembawa Cahaya” ini bercerita dengan dua tokoh wanita sebagai sentral, Hellen Keller yang buta-tuli dan Anne Sullivan, guru luar biasa yang mendedikasikan hidup untuk menemani dan membimbing Helen. Buku yang berkisah bagaimana anak buta-tuli akhirnya menjadi inspirator jutaan orang. Tak hanya pandai membaca, namun juga mampu menulis dan berpidato!
Kembali ke teman saya tadi, dalam obrolan singkat saya merasakan kegalauaan dan kebingungan mengingat di negara kita ini orang cacat masih menjadi semacam warga kelas dua. Saya teringat salah satu tetangga yang menderita tuna daksa, sejak kecil sudah bersekolah di sekolah reguler (bukan SLB) di kampung sampai tingkat SMP dan mampu berkomunikasi dengan tulisan. Saya tidak tahu apakah sekarang dia masih melanjutkan pendidikan- yang notabene pasti akan sangat penuh bullying yang mengerikan baginya. Ada pula tetangga yang lumpuh dan hanya bersekolah sampai kelas 3an SD, ada juga anak yang terlahir cacat di wajahnya dan karenanya mungkin dia (dan utamanya orangtuanya) tak punya nyali sama sekali untuk mengenyam bangku sekolah dan hanya bermain di sawah atau di kebun. Sampai sekarang saya masih saja sering berfikir bagaimana anak-anak seperti ini mendapatkan hidup seperti orang lain, penghargaan yang layak, dan pendidikan. Saya merutuki diri karena hanya mampu prihatin tanpa pernah berbuat apa-apa.
Seperti permintaan teman saya, nampaknya sejauh ini saya hanya mampu memberikan doa. Dan mungkin doalah yang menjadi energi utama untuk dapat menjalani semuanya. Waktu berpamitan teman saya berbisik untuk banyak bersyukur, betapa saya dapat menimang bayi yang lucu dan sehat, sebuah anugerah yang sangat luarbiasa jika dipandang dari sudut pandang teman saya ini.
Semoga bayi anugerah Tuhan ini mampu menjalani hidup dan selalu mendapatkan lindungan dan bimbingan Yang Maha Pemberi Hidup, orangtuanya juga mendapat kekuatan untuk berjuang. Dan semoga para keluarga dan orang tua dengan anak-anak lucu dan sehat selalu bersyukur dengan memberikan bimbingan dan didikan dalam membesarkan anak-anak ini untuk membentuk generasi beriman dan berkualitas.

Advertisements