Tak ada tokoh puncak Indonesia yang memiliki riwayat kontroversi sedemikian rupa selain Gus Dur. Saya yakin banyak di antara anda yang menyanjung-nyanjung ada pula dari anda yang mencercanya. Tokoh yang lahir di lingkungan Islam tradisional tapi justru kerapkali dianggap berfikiran sangat liberal.
Dan Gus Dur, kamu bersarung orang yang pernah masuk istana, orang kampung yang pernah menjadi RI-1 pemimpin puncak negri ini, yang juga pernah jadi pemimpin NU, yan pernah hobi main Band, pernah jadi komentator sepak bola, dan segudang “profesi” yang tak lazim termasuk menjadi salah satu pendiri Yayasan Simon Perez, Israel.

Saya lahir dan dibesarkan lingkungan Muhammadiyah di masa dua organisasi Islam besar, NU-Muhammadiyah masih dalam posisi berhadapan, penuh kecurigaan dan saling menjelekkan. Gus Dur sebagai ikon NU tentu saja tak lepas dari pandangan dan anggapan miring dari warga Muhammadiyah kala itu, saya juga. Ketika beranjak dewasa dan mulai membuka cakrawala, memiliki banyak teman dari berbagai latar belakang, saya mulai melihat setiap orang memiliki karakter, sifat dan latar belakang yang beragam dan tentu saja itu menjadikan setiap orang memiliki ciri khas kemanusiaannya.

Setelah mencermati profil seorang Gus Dur, saya ternyata menemukan banyak hal unik dan penuh keteladanan. Gus Dur adalah ketegasan yang tampil dengan kesederhanaan, prinsip kuat yang tertampak dalam candaan, membahasakan penindasan dengan humor, meyampaikan visi dengan gaya yang terkesan urakan. Gus Dur adalah tokoh yang menghargai perbedaan dan tanpa pernah takut untuk mempertahankan prinsip meski harus melawan arus dan cercaan.
Banyak hal yang dapat dipelajari dan dipetik dari buku hidup seorang Gus Dur. Entah anda menganggapnya sebagai pahlawan atau penghianat, Gus Dur adalah fenomena yang mungkin akan sangat jarang terjadi di republik ini lagi.
Selamat jalan Abdurrahman Wahid, seorang manusia yang kini telah menutup buku, membawa segala ide impian yang teguh diperjuangkan. Entah Anda menganggapnya sebagai wali atau perusak akidah, kewajiban setiap muslim-lah untuk mengingat hal yang baik dari seorang yang telah tiada.
Gus Dur mungkin buta mata-fisiknya, tapi mungkin dia hanya segelintir dari kita yang mampu “melihat” dengan jernih melalui mata hatinya. Gus Dur mungkin lumpuh kaki fisiknya, namun mungkin jauh lebih perkasa dari kita, perkasa mempertahankan prinsip dan keyakinan sampai ajal menjemput.
Semoga Allah memberikan tempat yang layak di sisi-Nya.