Kebahagiaan sebenarnya bergantung akan sudut pandang kita terhadap sesuatu. Bayangkan jika anda menjadi seorang penjual makanan di pasar. Rumah Anda di gunung di kampung terpencil. Semalaman anda bekerja keras memasak dan menyiapkan dagangan. Pagi buta harus berangkat ke pasar cepat-cepat karena di kampung itu hanya ada satu mobil angkutan yang berangkat pagi-pagi sekali. Entah karena apa, waktu menyeberang di pematang sawah yang licin tiba-tiba anda terpeleset, jatuh terjerembab ke lumpur. Tubuh penuh tanah kotor, kaki terkilir bahkan semua dagangan sudah tenggelam bersatu dengan lumpur dan tak mungkin dijual lagi. Apa yang anda pikirkan tentang nasib hari itu? Apes, malapetaka, atau mungkin Anda akan menyalahkan pematang licin, pemilik sawah, istri atau anak yang rewel, atau merutuki kebodohan Anda sendiri, atau barangkali anda akan memarahi Tuhan.

Namun apa yang anda pikirkan ketika anda pagi itu akhirnya memilih pulang dan istirahat dan menyembuhkan kaki terkilir, tiba-tiba seorang tetangga tergopoh-gopoh datang membawa berita bahwa mobil satu-satunya yang membawa penumpang, yang biasa anda tumpangi, pagi itu mengalami kecelakaan, jatuh ke jurang dan tak ada penumpang yang selamat. Anda pasti akan melihat kejadian hari itu dengan sudut pandang yang jauh berbeda.

Ini cerita lain. Saya lahir dan dibesarkan di desa dari keluarga yang saya anggap biasa saja sebagaimana orang-orang kampung lain. Suatu ketika, ada beberapa teman, dalam waktu dan tempat berbeda yang kebetulan sempat mengenal keluarga saya. Beberapa teman ini berkata dengan sedih, betapa mereka “iri” dengan saya dengan keluarga yang menurut mereka sangat perhatian dan mengatakan betapa berbahagianya saya. Saya sendiri agak heran karena saya ini memang demikian, sikap keluarga saya ya demikian, artinya di mata saya tidak ada hal yang sangat spesial. Itu tentu dari saya memandang. Bagi kawan saya ini, yang mungkin keluarganya banyak masalah dan kurang hangat, akan memandang kehidupan biasa saya menjadi begitu berbeda dari yang saya lihat.

Jadi dalam memandang sesuatu jangan buru-buru menilai sesuatu dengan buruk. Bisa jadi sudut pandang kita-lah yang menjadikannya seperti itu. Jangan melihat sesuatu dengan negatif. Yakinlah bahwa ada sudut pandang yang positif untuk melihat semua itu dan akhirnya justru membuat kita bahagia dan bersyukur sekaligus malu kepada Tuhan karena telah berburuk sangka. Sudut pandang yang mungkin baru akan kita sadari di lain waktu, lain tempat atau mungkin kita sadari dengan melihatnya dari kacamata orang lain.

Advertisements