Sudah sekian lama kita mendengar kabar angin tentang adanya mafia di peradilan kita. Orang berduit dapat mengatur peradilan ataupun para penegaknya. Kabar angin ini bahkan seperti (maaf) kentut, tak terlihat tapi bau menyengat hidung. Ketika rekaman penyadapan Anggodo dibuka di Mahkamah Konstitusi saya dan mungkin seluruh warga bangsa ini terhenyak. Bau busuk itu sepertinya mulai terkuak. Siapapun yang masih punya nurani pasti terkoyak. Ketua MK, Pak Mahfud MD mengatakan, meski di sidang MK itu beberapa kali ada sedikit guyonan, beliau menyatakan bahwa dalam hatinya menangis melihat realita ini. Realita yang nyatanya tidak saja memprihatinkan tapi menjijikkan dan mengerikan terjadi di negara tercinta ini. Bagi saya, ini bukan masalah Bibit-Chandra, bukan! Bahkan jika Bibit-Chandra ternyata dinyatakan terbukti bersalah sekalipun. Ini adalah masalah nurani yang tercabik dengan kejam.
Semakin jauh kasus ini dibahas, semakin membuat kita sedih, prihatin, bingung, kesal, marah, jijik, atau perasaan yang campur aduk. KPK, Pori, LSM, TPF, DPR adalah kumpulan orang-orang pintar yang semoga saja mereka-mereka yang masih mengikuti nuraninya lah yang akan menang. Saya sendiri kalau ditanya mendukung siapa, saya akan tegas mendukung kata hati nurani.
Mengutip ayat Al-Quran (yang juga dikutip oleh M.Jasin dalam sumpahnya):
“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya (rekayasa), dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. ” (Ali Imran: 54)
Semoga Allah menolong dan memenangkan para pejuang nurani.