kambing
Apa hubungan kambing dan zakat? Kambing memang salah satu harta yang wajib dizakati (zakat maal) jika telah memenuhi kriteria tertentu (nishab). Namun bukan itu yang akan saya bicarakan. Ini adalah soal zakat yang akhirnya diwujudkan menjadi kambing.

Ceritanya begini. Waktu saya mudik lebaran lalu, saya menyempatkan bertemu kawan-kawan di kampung membahas agenda kegiatan masyarakat yang saya sudah lama tidak ikuti karena saya sekarang jarang pulang kampung. Ada beberapa teman yang juga hanya pada kesempatan lebaran ini bisa menengok desa kelahiran jadi kami sempatkan waktu yang sempit untuk diskusi panjang lebar sampai larut malam.

Salah satu tema diskusi adalah soal zakat, khususnya zakat mal. Selama ini kami menjalankan organisasi pengumpul zakat mal, namanya Dompet Madani. Meski donator sangat sedikit, sementara orang-orang miskinnya lebih banyak, kami hanya berjalan seadanya saja. Kalau ada dana zakat masuk ya hampir bisa dipastikan akan segera habis untuk menyantuni para dhuafa. Saya pribadi lebih cenderung memberikan zakat atau sedekah di kampung karena walau jumlah sedikit bagi mereka sangatlah berarti. Kawan-kawan saya sering bercerita yang membuat kami terharu, betapa uang 20 ribu ketika diterimakan kepada mereka sambutannya sangat diluar dugaan. Bagi kita uang 20 ribu bisa habis untuk sekali makan, bagi mereka itu bisa untuk beberapa hari. Selain karena uang segitu bagi mereka sangat berarti juga ada rasa bahagia bahwa mereka yang terpinggir itu ternyata masih ada yang memberikan perhatian. Pernah pula suatu waktu kawan kami mendatangi seorang nenek yang cucunya masih sekolah. Nenek ini merasa agak ketakutan dikira cucunya bermasalah dan juga jarang ada tamu, padahal kami berniat memberikan baju seragam sekolah untuk cucunya itu.
Ya, meski “omset” kami sangat sedikit dan selalu segera habis kami tetap berjalan meski sering tersendat-sendat.

Kembali ke soal diskusi tadi, malam itu saya melontarkan ide untuk membuat dana zakat yang lebih produktif. Jadi sebaiknya zakat yang terkumpul tidak “dihabiskan” tapi diusahakan untuk diputar dan digunakan modal. Akhirnya setelah bergelut dengan argumentasi masing-masing maka disepakati bahwa model pengelolaan zakat akan diwujudkan dengan kambing. Kambing tersebut akan dipelihara oleh penerima zakat sebagai ternak gaduhan. Jika nanti kambing laku dijual setelah dipelihara maka penggaduh berhak mendapat 60% keuntungan. Sisa keuntungan akan dikembalikan ke Dompet Madani untuk dibelikan kambing lagi dan diputar lagi atau disumbang kepada penerima zakat lain dalam bentuk konsumtif. Pertimbangan kami kenapa masih memberikan santunan dalam bentuk konsumtif adalah penerima zakat banyak di antaranya sudah tak mampu secara produktif, misalnya lumpuh atau sudah jompo. Salah satu yang menjadi perhatian lain dari kami adalah penerima kambing tersebut. Kriteria penerima adalah mereka yang dari kalangan dhuafa dan masih produktif.
Saya tak mau wacana ini hanya sebatas ide saja. Jadi saya mengusulkan untuk segera diwujudkan entah bagaimana caranya agar zakat kambing ini secepatnya direalisasi (padahal Dompet Madani saat itu sudah minim). Akhirnya pada malam kedua saya dan teman-teman akhirnya sepakat menjadi “donatur” pertama dan segera mengumpulkan dana zakat dari kami sendiri sehingga terkumpul untuk membeli kambing 2 ekor.
Setelah saya kembali ke jogja, beberapa hari kemudian saya mendapat SMS bahwa kambing sudah dibelikan. Satu ekor kambing seharga sekitar Rp.560 ribuan. Alhamdulillah dana awal kami mencukupi. 2 kambing ini sudah didistribusikan. Kami akan lihat beberapa bulan lagi apakah ada hasil yang menggembirakan dari pengelolaan zakat ini.

Ini baru langkah-langkah awal kami untuk memberdayakan kaum dhuafa di kampung dengan sebisa kami. Saya sangat yakin bahwa potensi zakat ini sebenarnya jika dikelola secara benar akan memiliki pengaruh ekonomi yang sangat kuat bagi pengentasan kemiskinan. Selama ini pengelolaan zakat masih kurang inovatif selain banyak orang yang belum memahami tentang kewajiban zakat mal (misalnya banyak orang mengira bahwa zakat hanya zakat fitrah, padahal selain zakat fitrah juga ada zakat maal).

Saya jugs selalu menekankan kepada kawan-kawan untuk tetap semangat. Jika langkah ini gagal (lagi) ya kita buat lagi terobosan lain, sampai berhasil. Dan jangan banyak berharap dari uluran tangan dan partisipasi orang lain, kita harus mulai dari diri sendiri. Jika ada yang mau membantu dan berpartisipasi tentu kita bersyukur, tapi kalau tidak ada ya kita tetap jalan, sekuatnya karena Allah pasti akan membantu hamba-Nya…

Wallahu a’lam bisshawab. Semoga Allah meridhoi…

Advertisements