Bagi sebagian masyarakat kita, lebaran merupakan momen yang sangat istimewa. Bukan saja karena lebaran adalah puncak ritual perayaan kemenangan setelah ibadah puasa ramadhan, tapi lebaran telah menyatu menjadi tradisi yang penting. Lihat saja sekian banyak orang rela berdesakan di tengah kendaraan pengap, terjebak kemacetan panjang, naik motor penuh bawaan dalam jarak ratusan kilometer hanya untuk satu alasan, mudik.

Bertemu orang tua dan sanak saudara menjadi motivasi orang rela menempuh kesulitan selama perjalanan. Bahkan bagi banyak orang, memandang wajah orangtua-nya saja adalah sebuah kebahagiaan luar biasa, apalagi setelah sekian jarak dan waktu telah memisahkan.
Mengarungi kehidupan yang kadang penuh onak duri ini kita kembali ingat bahwa perjuangan orangtua kita, pendahulu kita, mungkin jauh lebih berat. Saya sempat berbincang dengan banyak teman, ketika kini sudah punya keluarga sendiri, merasakan bagaimana mengurus anak, betapa itu semua mengingatkan kenapa dulu kita ini suka melawan orang tua.

Saya pernah membaca buku psikologi, ketika anak masih kecil balita, orangtua adalah figur yang paling sempurna. Ketika beranjak besar dan mengenal orang lain, kita mendapati bahwa ada orang lain yang lebih. Semakin dewasa kita mulai merasa tidak puas dan kecewa dengan orang tua karena keinginan kita banyak tak terpenuhi. Namun, seiring kedewasaan kita, seiring problematika kehidupan, apalagi setelah berkeluarga, buanyak hal yang membuat kita gamang, frustasi, nyaris patah, kita teringat orang tua. Kita lalu mulai berfikir orang tua kita sudah pernah melalui ini, ada baiknya coba mencari pertimbangan dan saran. Semakin lama kita menjadi semakin sadar, orang tua kita tak seperti yang kita bayangkan sebelumnya dimana kita telah merasa kecewa.

Kini, kita merindukan momen-momen untuk sekedar bersanding atau berbincang ringan dengan bapak ibu kita ibarat telaga pelepas dahaga di tengah kerontang kehidupan.
Di titik ini saya mulai menyadari psikologi orang mudik. Betapa ribuan kilo jalan ditempuh dalam terik dan debu hanya untuk sekedar meneguk melepas dahaga dengan memandang orang-orang yang dikasihi.

Semoga Allah meridhai dan melindungi orang tua kita dan mengampuni dosa-dosanya.

Selamat Idul Fitri