Ketika berjalan di tepi sebuah kolam, Nasrudin berjalan kurang hati-hati dan hampir terjatuh ke kolam.Seseorang yang tidak terlalu dikenalnya kebetulan berada di dekatnya, dan kemudian menolongnya pada saat yang tepat sehingga Nasrudin tak sampai jatuh tercebur. Peristiwa ini ternyata berbuntut panjang. Setiap kali bertemu Nasrudin orang yang menolongnya itu maka orang tersebut selalu membicarakan peristiwa itu, dan membuat Nasrudin berterima kasih berulang-ulang sehingga Nasruddin mulai kesal juga.
Suatu hari, untuk yang kesekian kalinya, orang itu menyinggung peristiwa itu lagi. Nasrudin mengajaknya ke dekat kolam tempat dia hampir jatuh kemarin. Kali ini tanpa basa-basi Nasrudin langsung melompat ke air.
“Kau lihat! Sekarang aku sudah benar-benar basah seperti yang seharusnya terjadi kalau engkau dulu tidak menolongku. Sudah, pergi sana dan jangan pernah mengungkit-ungkit peristiwa itu!”

Hari-hari dalam bulan ramadhan merupakan waktu yang sangat baik dalam bersedekah. Namun perlu diingat bahwa sedekah bukan hanya melakukan pemberian kepada orang lain saja, tapi juga harus disertai sikap hati yang ikhlas yakni niat yang tulus karena Allah dan niatan untuk membantu. Harta ibarat beban yang dipanggul di pundak kita, semakin banyak harta itu, semakin besar pula tanggung jawab kita nanti di akhirat. Semakin banyak disedekahkan semakin ringan beban kita bahkan harta yang disedekahkan justru menjadi pahala. Ibarat juga makanan di perut, semakin banyak harta semakin perut kita penuh. Semakin penuh dan tak dikeluarkan, maka akan busuk dan menjadi penyakit. Bayangkan sedekah seperti kita buang hajat, ketika sudah dikeluarkan lupakanlah dan tak usah disebut-sebut.
Sedekah yang diperlihatkan ke orang banyak atau selalu disebut-sebut justru akan membuat riya’ dan menyebabkan orang yang diberi sedekah menjadi sakit hati dan pada gilirannya amal sedekah itu hilang pahalanya. Kita mengira sudah banyak amal sedekah kita sedang kenyataannya amal itu seperti debu yang diguyur hujan lebat, tak bersisa apa-apa.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang diatasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatu pun dari apa yang mereka usahakan, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Al- Baqarah:264)

Wallahu a’lam. Semoga Allah meridhai setiap sedekah dan amal kita.

Advertisements