Seberapa seringkah Anda mendengar wacana aturan Islam seputar jihad? Tentu waktu-waktu belakangan ini sangat sering, entah yang mengartikannya sebagai perang atau kekerasan atau jihad dalam artian makna fundamentalnya, kesungguhan. Anda tentu juga sering mendengar wacana agama atau fatwa tentang khilafah, poligami, pemilu, rokok, facebook, bunga bank, mengemis, dan lain-lain. Tapi pernahkah Anda mendengar fatwa mengenai ASI?
Bagi sebagian besar kita mungkin masih banyak yang kurang menyadari pentingnya ASI bagi perkembangan anak. Orang lebih suka memberi anak-anaknya susu sapi daripada minuman natural manusia, ASI. Meski belum ada survey tentang pemanfaatan ASI eksklusif di masyarakat, saya yakin sebagian besar bayi tumbuh tidak dengan ASI eksklusif. Sebagian murni mengkonsumsi susu formula atau ASI ditambah susu formula.
Kesadaran untuk memberikan ASI eksklusif kepada bayi ini ternyata bukan hanya di pihak ibu-ibu, tapi nampaknya juga oknum pihak rumah sakit yang dengan sengaja atau tidak justru menganjurkan untuk menggunakan susu formula, tentu terkait kepentingan bisnis. Ada cerita seorang teman yang setelah melahirkan ternyata diberi bingkisan dari sebuah rumah sakit berisi salah satu produk susu yang mahal. Konon kalau bayi sudah minum produk itu, maka dia tak akan mau minum produk lain, dan yang memprihatinkan tentunya adalah bayi tak lagi minat minum ASI. Produk susu formula mahal ini tentu adalah bagian partner dari rumah sakit yang bersangkutan. Saya pernah membaca bahwa di Afrika banyak kasus bayi yang kurang gizi akibat ibu-ibu tak mau memberikan ASI karena termakan iklan yang memperlihatkan bayi gemuk dan sehat di iklan susu formula. Asumsi masyarakat kita pula yang menganggap susu formula yang harganya selangit itu memiliki kandungan gizi yang lebih baik dari ASI, entah DHA, minyak ikan atau iming-iming menggiurkan lain.
Beruntung anak kami sampai saat ini masih bertahan dengan semangat ibunya yang tinggi untuk memberikan ASI eksklusif. Beruntung pula pada masa-masa sulit di awal kelahiran, pihak rumah sakit dan tenaga medis memberikan dukungan yang cukup membesarkan hati untuk memberikan ASI.
Saya tak akan berbicara lebih banyak tentang manfaat ASI di tulisan ini. Saya hanya ingin memberikan uneg-uneg saya pribadi sekaligus pertanyaan yang menggelitik saya. Seperti lazim diketahui, dalam Al-Quran jelas-jelas dinyatakan mengenai ASI ini meskipun cukup singkat.
Dalam Al-Quran disebutkan menyusui dalam jangka dua tahun.

Al baqarah 233: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.

(Baca juga Al Ahqaf 15)

Dalam kehidupan sehari-hari saya belum pernah mendengar adanya fatwa atau isu tentang ASI dalam wacana keagamaan. Seingat saya belum sekalipun saya mendengar. Padahal kita tahu bahwa ASI memiliki peran sangat vital dalam membentuk generasi penerus. Generasi yang akan melanjutkan perjuangan kita sekarang. Begitu pentingnya hal ini sehingga cukup membuat saya agak prihatin juga bahwa kalangan ulama kita nampaknya belum begitu memperhatikan. Suatu saat saya kira perlu dilakukan kajian mendalam tentang pemberian ASI terutama dilihat dari sudut agama dan kalau perlu dikeluarkan fatwa khusus tentang ASI ini.
Di banyak hal kita sering getol dengan hal-hal keagamaan yang sepele, tak jarang disertai dengan gontok-gontokan mempertahankan pendapatnya masing-masing. Namun, untuk hal yang fundamental malah kadang terlewatkan. Wacana ASI dan pengaruhnya bagi perkembangan generasi ini salah satu ranah apes yang tak pernah tersentuh, entah karena ketidak tahuan atau ketakpedulian atau karena isu ini tak menarik dan tak marketable untuk diangkat.