Sewaktu berkesempatan ke negeri jiran Malaysia, saya dan serombongan dari beberapa negera sempat diajak berkunjung ke salah satu toko khas mereka, Toko Batik! Malaysia benar-benar ingin mengesankan bahwa batik merupakan budaya mereka dan nampaknya cukup serius menjualnya.
Saya lihat desain batik Malaysia ini biasa saja. Tapi dari sisi harga ya jangan tanya, apalagi kalau dibanding harga batik di Jogja atau Solo.
Saya lalu bertanya kepada teman dari Filipina apakah mau membeli batik di toko itu? Jawabannya tak saya duga. Dia mengatakan bahwa batik Indonesia jauh lebih bagus. “You draw it (batik) with mind”, katanya.
Saya cukup berbesar hati ternyata warga asing sebenarnya masih dapat melihat bahwa seni dan budaya tak bisa dengan mudah dicomot begitu saja.
Orang boleh saja mengambil kulit, merampas baju dan mengklaimnya menjadi miliknya, tapi jiwa dan ruh tak akan bisa dicontek.
Bagi bangsa Indonesia sendiri, kejadian semacam ini harusnya menjadi refleksi bahwa kita musti lebih menghargai kebudayaan kita sendiri. Kita ibarat keluarga miskin dengan rumah reyot padahal tanpa disadari harta kita bertebaran dirumah, di emperan bahkan di halaman belakang.
Orang lain dengan leluasa memungutinya, bahkan angin pun kalau mau dapat menerbangkannya dengan mudah.
Saya sependapat seperti yang diungkap Umar Kayyam, budaya adalah bukan produk jadi. Ia adalah jiwa yang bergelora dan dinamis meliputi akal budi dan upaya untuk kehidupan lebih sejahtera dan memanusia (human).
Malaysia bisa saja mematenkan desain batik atau memajang tari Pendet sebagai ikon. Tapi mereka tak akan pernah merasakan jiwa batik, tak pernah faham ruh memendet. Mereka hanya tahu bahwa budaya-budaya itu adalah produk yang marketable, yang layak jual.
Sementara bagi para pembatik dan pemendet, senada ucapan rekan saya dari Malaysia itu, mereka melakukan itu dengan hati dan jiwa.
batik motives Pertanyaannya adalah, apakah ruh dan jiwa budaya itu masih ada di dada kita? Tari Pendet masih jauh lebih beruntung nasibnya karena budaya menari masih menjadi bagian keseharian yang dilakukan anak-anak di sana dengan bangga. Namun bagi para pembatik dan ribuan pekerja budaya lainnya barangkali hanya segelintir saja yang masih menekuni warisan leluhur atau bahkan sekedar mengapresiasinya. Alih alih memahami dan mengamalkan filosofinya, menghargai produk budaya-nya saja kita masih kurang. Lihat saja, orang banyak lebih memilih menenteng Blackberry sebagai identitas budaya ketimbang memakai baju batik.

Advertisements