Presiden dalam pidato kenegaraannya memproyeksikan bahwa 2025 Indonesia akan sejajar dengan negera-negara maju dunia. Kita tentu harus optimis dan memiliki target. Namun, rasanya sudah berulangkali kita sering mendengar orasi seperti ini.
Dulu, jaman orde baru ada istilah ‘tinggal landas’. Sebelum hal itu terjadi ternyata kita dihantam krisis, kita jatuh, nyaris kandas.
Lalu datang reformasi menjanjikan kehidupan lebih baik. Ada optimisme meruyak, kita akan segera bangkit, secara ekonomi dan politik, adanya kebebasan dan demokratisasi. Nyatanya sampai sekarang kita tak beranjak jauh.
Korupsi masih dan malah makin menggurita, hutang semakin menumpuk, harga semakin naik, bencana akibat kondisi alam dan manusia terjadi dimana-mana, moralitas bangsa mengalami degradasi yang semakin parah, terorisme tumbuh dan menjadi hantu setiap saat, kebebasan menjadi bumerang yang justru disalahartikan.
Presiden Sukarno pernah menyitir bahwa bangsa besar adalah bangsa yang mulanya bangkit yang kemudian hancur lebur, bangkit lagi, hancur lagi, bangkit lagi… Menjadi bangsa yang kuat karena telah digembleng oleh jaman. Seperti Sisypus dalam legenda Yunani, jangan-jangan justru apa yang dikatakan Sukarno menjadi kenyataan, menjadi kutukan…
Sisyphus dikutuk mengangkat batu besar yang harus diangkat di tebing terjal, ketika sudah sampai puncak bukit, batu itu harus dijatuhkan lagi, begitu terus menerus sepanjang jaman.
Dulu, waktu diberitakan sebuah peristiwa tragis, kita tersentak. Hari ini ada kerusuhan di daerah A, besok ada bencana alam di daerah B, besoknya ada pendemi penyakit mematikan di daerah C dan tak habis-habisnya.
Ketika mendapati satu peristiwa besar yang tragis yang tak mengenakkan kita berharap itu yang terakhir, ternyata kita salah, sebentar kemudian ada yang lebih heboh lagi.
Jangan salah, besoknya ada lagi yang lebih memilukan, menjengkelkan, memiriskan. Tapi lalu menjadi angin lalu.
Kita setiap hari disuguhi berita yang semakin lama semakin membuat bebal. Kalau dulu, kriminalitas atau kerusuhan kecil dengan korban sedikit saja bisa menjadi berita heboh. Kini skala berita heboh mungkin sudah sangat tinggi.
Setiap kali bangsa ini jatuh terpuruk, kita memupuk harapan. Pemerintah mengatakan kita akan perbaiki semuanya, kita akan segera menyusul bangsa lain, kita akan menjadi ini dan itu. Namun, rezim terus berganti, kita tetap saja mendengar janji itu sebagai angin surga belaka.
Atau jangan-jangan kita malah menikmati menjadi Sishypus ini?
Sebagai rakyat biasa, saya hanya ingin mengajak, mulailah bangkit dari diri kita sendiri dan lingkungan. Biarlah penguasa dan politisi mau bicara apa saja. Mari membangun jatidiri kita sebagai bangsa bermartabat, membangun keluarga bermoral, membangun masyarakat bertanggung-jawab.