Sekali lagi bangsa ini memperingati kemerdekaan. Setengah abad lebih usianya. Bagi kita yang tak pernah mengalami bagaimana rasanya dijajah tentu tak dapat begitu saja memahami kondisi betapa susahnya masa itu dimana makan nasi adalah sebuah kemewahan.

Kini, setengah abad lebih, kita mungkin sudah bukan hal aneh kalau makan nasi ayam setiap saat. Hidup jauh lebih berkecukupan, bahkan hal-hal yang mahal sewaktu saya kecil kini bisa didapat dengan lebih mudah.

Namun, setengah abad, waktu yang tak singkat sebagai bangsa untuk menjadi lebih baik. Jika diukur dari perkembangan negara lain, janganlah tengok Jepang yang dari hancur akibat perang namun kini menjadi raksasa ekonomi dunia, bandingkan saja dengan Singapura atau Malaysia.

Tahun 60-an Indonesia adalah negara yang bagi Malaysia adalah negara yang ditakuti. Peristiwa konfrontasi Indonesia-Malaysia tak pelak membuat negeri yang baru diberi kemerdekaan oleh Inggris ini hampir tak berani berkutik jikasaja tanpa perlindungan Inggris.

Tahun 70-an, ketika hubungan Indonesia-Malaysia mulai terbuka, banyak warga Malaysia berguru ke Indonesia, atau guru-guru terbaik kita direkrut Malaysia untuk mengajar disana. Kini, kondisi seakan terbalik. Kini, orang Malaysia yang barangkali tak mengenal sejarah masa lalu, menyebut kita sebagai Indon, sebuah istilah yang dalam kamus mereka mungkin lebih berarti sebagai bangsa TKI, bangsa babu, bangsa kuli…

“Eine Nation von Kuli und Kuli unter den Nationen”, “A nation of coolies and a coolie among nations” kata Bung Karno yang katanya mengutip kalimat ini dari bangsa penjajah kita dalam menganggap dan memperlakukan bangsa Indonesia.

Tragisnya, meski lebih setengah abad merdeka, “kutukan” sebagai bangsa kuli ini masih saja menghantui kita. Mental bangsa kuli ini nampaknya -diam-diam- masih saja menjadi bagian dari budaya kita.

Kita barangkali hanya naik tingkat sedikit, sekarang menjadi konsumen. Kita pelahap mentah-mentah produk-produk bahkan budaya asing, sedang budaya sendiri justru ditinggalkan. Lihat daja di supermarket, di toko-toko, sulit sekali mendapatkan barang buatan orang kita sendiri. Lihat saja perangkat teknologi terbaru, dari komputer, mobil, motor, ponsel bahkan popok bayi, berapa yang dibuat anak bangsa?

Akankah mental kuli ini akan menjadi bagian dari kultur kita selamanya? Hanya kita yang mampu menjawab.