Kemewahan bisa datang dari mana saja bahkan dari sesuatu yang sangat sederhana. Seorang petani desa barangkali bisa dengan sangat nikmat makan di pematang sawah, di bawah pohon, dengan lauk tempe plus sambal bawang, dan minum air putih dari kendi tanah liat yang didinginkan semalam. Perasaan nikmat dan syukurnya bisa saja jauh melebihi seorang lain yang makan di restoran mahal dengan lauk semeja penuh dengan menu makan dari berbagai macam jenis dan minum anggur mahal dari eropa, namun makanan yang masuk di perut tak banyak terasa nikmatnya, apalagi ditambah gangguan pikiran akibat takut kolesterol atau beban pekerjaan.
Bagi saya, sebuah kemewahan tak terkira ketika duduk di kursi bambu di beranda rumah kontrakan sambil menimang si kecil, menyaksikan pohon mangga depan rumah yang mulai berbunga dan berbuah diterpa sepoi-sepoi angin. Ada perasaan syukur mengalir bersama sepoi angin. Mengalir kebesaran dan rasa cinta Tuhan terpancar dari bunga-bunga kecil yang mulai menjadi buah. Mengalir dari senyuman bayi mungil di pangkuan. Mengalir di mentari sore keemasan. Cinta yang mengalir bersama kehidupan.
Seperti petani yang merasakan kemewahan menghabiskan makan siang sederhananya, sayapun benar-benar merasakan kemewahan yang tak terkira, duduk di beranda menimang si kecil, yang bagi orang lain mungkin hal yang sangat sederhana. Merasakan begitu berharganya hidup, begitu berharganya waktu. Meluapkan syukur tiada terhingga…

Advertisements