Di tengah hingar bingar pemilu, barangkali media di Indonesia luput perhatian ke berita yang harusnya menjadi perhatian besar. Di beberapa negara, khususnya Mesir dan Timteng, konon berita ini mengemuka dalam beberapa hari. Di Indonesia sendiri baru terdengar setelah hiruk pikuk kampanye dan pemilu pilpres. Berita ini tak lain tentang dikenangnya 1 Juli sebagai Hari Jilbab Se-Dunia.
Ditetapkannya Hari Jilbab ini bukan sekedar ditetapkan begitu saja, namun berawal dari terbunuhnya Marwa al-Sherbini (32th) warga Mesir yang dibunuh seorang warga berkebangsaan Jerman di sebuah pengadilan di Kota Dresden, Jerman. Kisah ini bermula ketika ia mengajukan gugatan atas pelecehan Alex terhadap jilbab yang dikenakannya. Alex beberapa kali melakukan penyerangan dengan mencoba merenggut paksa jilbab yang dikenakan Sherbini.
Pengadilan Dresden memvonis dan mendenda Alex, imigran asli Rusia, sebesar 730 euro atau sekitar Rp 9,85 juta. Tak puas atas putusan sidang, Alex pun naik banding. Dalam persidangan naik banding pertama itulah, Alex menyerang Sherbini dan menikamnya hingga tewas.
Sherbini tengah hamil 3 bulan, suaminya sendiri yang mencoba melindungi justru terluka oleh tembakan petugas.
Kasus ini tak pelak membangkitkan kemarahan di kalangan umat Islam, khususnya mesir dan kemudian diserukan bahwa 1 Juli sebagai Hari Jilbab Sedunia.
Akankah kita hanya diam dan berpangku tangan, atau sibuk dengan berita-berita politik yang bertebaran ini?