Agak kaget saya ketika mendengar pengakuan SBY dalam doa bersama di majlis zikir-nya beberapa waktu lalu yang disiarkan di TV. Saya setengah tak percaya pernyataan itu dikeluarkan orang nomor satu negri ini yang konon bergelar doktor itu. Di jaman internet ini sangat menggelikan (bahkan menurut saya sangat memalukan) presiden negri ini masih membawa-bawa klenik ke pentas politik nasional. Bahkan secara tak langsung SBY menuduh lawan-lawan politiknya

Saya teringat beberapa tahun lalu banyak kejadian, terutama di Jawa Timur, dimana banyak orang dibantai karena dituduh tukang santet. Sihir atau santet tak pernah dapat dibuktikan di pengadilan karena memang itu barang gaib. Kita tentu sangat prihatin ketika hal-hal ini malah diangkat lagi, bahkan tak tanggung-tanggung oleh pemimpin negri ini. Sama dengan kasus pembantaian dukun santet itu, saya kira sangat musykil SBY dapat membuktikan kalau lawan politiknya telah menyantetnya. Dalam sejarah negri ini, seingat saya tak seorang presiden-pun yang mengangkat klenik secara terang-terangan, bahkan Pak Harto atau Gus Dur yang konon dekat dengan hal begituan seingat saya tak pernah bilang kalau pernah disantet.
Soal klenik ini bahkan disinggung Ali Mochtar Ngabalin kalau SBY memang masih percaya jimat dan sebangsanya (Sumber Kompas, Detik

Yang lebih menggelikan lagi, pernyataan SBY juga dibela (seperti biasa, mati-matian) rekan koalisinya salah satunya adalah tokoh yang notabene dari partai Islam, Tifatul Sembiring sumber

Sebagai seorang muslim, saya percaya bahwa kekuatan gaib (baik atau jahat) itu memang ada. Sihir pun ada disinggung dalam ayat Al-Quran. Namun, bukan itu permasalahannya. Bukan pula seperti dikatakan Tifatul soal pernyataan SBY yang dikatakan hanya pernyataan deskriptif dan disalahtafsirkan. Masalahnya adalah ketika kita hendak melangkah di era politik dan berbangsa yang lebih baik dan lebih moderen, hal-hal klenik seperti ini sudah seharusnya dibuang jauh-jauh dari wacana publik. Tak pantas seorang pemimpin mengungkit-ungkit hal-hal tak mendidik seperti itu. Apalagi kalau tujuannya hanya mencari simpati untuk “dikasihani” atau menciptakan kesan dizalimi.
Wallahu a’lam

Kartun: inilah.com