Menjelang pilpres Juli ini, kita tiap hari disuguhi iklan politik yang bertebaran di televisi. Meski jarang nonton TV, ada beberapa hal yang sempat saya catat dari iklan-iklan ini.
Pertama, iklan SBY yang cenderung menonjolkan ketokohan semata. Benar-benar iklan pilpres ini hanya ‘menjual’ sosok. Bahkan sosok cawapresnya sendiripun nyaris hilang. Yang lebih norak lagi adalah iklan presiden indomie yang sangat tidak kreatif bahkan cenderung menjiplak. Semakin melihat iklan SBY semakin eneg saja. Iklan-iklannya nyaris kosong dari pendidikan politik. Bahkan beberapa iklan ‘plat merah’ berbiaya negara, secara terselubung seperti dimanfaatkan untuk mendukung SBY (iklan koperasi, sekolah gratis, dll)
Iklan JK-WIN dan Mega-Pro menurut saya relatif lebih baik. Iklan JK yang mempopulerkan produk dalam negri semisal sepatu cibaduyut patut mendapat respek. Apalagi anjuran ini tak cuma isapan jempol. JK konon suka menginspeksi sepatu para tamu yang berkunjung ke kantornya, apakah sepatunya buatan dalam negri atau impor. (jusufkalla.kompasiana.com). Lihat juga tentang iklan yang berbicara harga diri bangsa. Iklan Mega-Pro lebih banyak mengungkap data terutama tentang rakyat masih sengsara, serta kegagalan pemerintah sekarang. Meski beberapa terkesan didramatisir, fakta dan data yang diangkat nampaknya cukup relevan dan cukup valid. Iklan yang sudah sejak lama didengungkan Prabowo, semisal anjuran membeli produk petani dan nelayan, serta belanja di pasar tradisonal menurut saya juga salah satu yang patus diapresiasi.
Iklan capres, sedikit banyak tentu mencerminkan capres yang diusung. Namun seberapa efektif iklan dan pengaruhnya kepada pilihan Anda itu sangat bergantung kepada Anda sendiri

Advertisements