Beberapa waktu lalu saya dititipi istri untuk membelikan jeruk di sebuah supermarket di Jl. Kaliurang (saya tak sebutkan namanya, khawatir saya kena jerat UU ITE). Saya lupa tepatnya berapa kilo saya beli jeruk itu, seingat saya ada sekitar 7 butir jeruk. Sesampai di rumah ketika akan dimakan ternyata jeruk itu ternyata busuk. Saya bilang kalo busuk sebagian nanti saya makan yang bagian lain yang tidak busuk, daripada mubazir karena sesedikit apappun itu kan rezki yang tak boleh disiasiakan. Namun ketika saya coba cicipi, bagian yang tidak busuk itupun berasa aneh dan saya merasa kalo itu memang jeruk busuk jadi akhirnya saya buang. Saya kira cuma satu butir jeruk yang busuk. Lalu istri saya mencoba beberapa jeruk lain dan ternyata sama, jeruknya busuk. Wah, ini pasti gak bener. Akhirnya hari itu jeruk tak jadi dimakan.
Besoknya, ketika satu jeruk lain dikupas ternyata kondisi nya bagus, syukurlah, jadi beberapa sisa jeruk masih dapat dikonsumsi. Namun, ternyata saya salah. Semua jeruk yang tersisa ternyata busuk juga, praktis dari semua jeruk yang saya beli hanya satu yang dapat dimakan. Padahal dari kulit luar tidak ada tanda-tanda mencurigakan.

Saya setengah guyon kalau kayak gini dikomplain saja tuh supermarketnya, karena ini jelas kesalahan mereka. Kalau sebagian kecil buah yang busuk mungkin masih agak ditolerir, ini sudah hampir semuanya busuk. Atau kepikiran ditulis saja di blog. Belum sempat menulis, ternyata ada kasus Ibu Prita. Wah, jadi takut juga saya nulis, jangan jangan hanya karena jeruk bisa berurusan dengan hukum dan masuk penjara!
Kasus Ibu Prita ini menurut saya dapat menjadi preseden buruk dalam kebebasan berpendapat. Apalagi ancaman UU ITE ini sampai hukuman sampai 6 tahun penjara.

UU ITE sendiri sejak lama sudah menjadi kontroversi dan DPR dinilai agak gegabah ketika men-syahkan UU ITE meski dibantah dan dikatakan kalau sebelum disahkan DPR sudah meminta pendapat banyak kalangan termasuk pakar IT, Roy Suryo.
Kembali ke masalah jeruk tadi, sebagai rakyat kecil saya tak bisa berbuat banyak, salah-salah bisa dituntut dan dipenjara, sementara korporasi besar yang mampu menyewa pengacara handal akhirnya yang selalu di posisi “menguntungkan”. Apakah kasus ini harus menjadi pelajaran “pasien-pasien lain” dan “konsumen-konsumen lain” untuk “berhati-hati” dalam berbicara/menulis? Pelajaran bagi rakyat kecil untuk tak berani-berani mengkritik perusahaan besar apalagi multinasional, meskipun perusahaan itu sudah meracuni lingkungan Anda, atau meracuni sumber hidup Anda, menggasak hutan-hutan leluhur Anda.
Ini tentu termasuk saya, yang akhirnya lebih merasa “takut” daripada “berhati-hati” dalam menulis blog, bahkan untuk sekedar menulis jeruk busuk.
—-
Saya hanya teringat sebuah lelucon dan membayangkan pihak super market yang saya komplain menjawab: ” Anda harusnya bersyukur ketipu cuma 3 kilo, kami ketipu 3 kontainer jeruk busuk semua”. Dan saya hanya tersenyum, kecut..

Advertisements