Hai, bukankah pagi ini indah sekali. Langit begitu biru, awan putih.. Ah, hangatnya mentari mengusir beku sisa gerimis malam tadi. Ayo kita segera sarapan. Lihatlah bulir-bulir padi disana, begitu menggoda. Kuning, berisi, renyah, lezat. Sepertinya pagi ini aku akan makan barang lima atau enam bulir. Atau.. mungkin tujuh, sepuluh, atau lebih.. Kau-pun boleh makan sesukamu. Ah, lihatlah, kita bisa makan bulir-bulir itu sambil berayun di tangkainya sambil bernyanyi… Lagu apa saja..
Oya, pagi ini mau lagu apa ya? Tentang awan biru itu? Ah, kemarin kan sudah. Atau mau menyanyikan hijau rumput, atau ranting kering pohon ini? Jangan ah, aku tak mau lagu sedih. Ah, aku tahu, kita nyanyikan saja lagu tentang embun. Bukankah dia terhampar cantik dimana-mana? Di dedaunan, rumput-rumput, ilalang, juga di bulir-bulir kuning itu.. Wow, begitu indah, bahkan kitapun bisa menghirup segarnya sambil sarapan..
Ya, sarapan bulir padi itu.. Ayo kita segera terbang kesana. Jangan sampai Pak Tani keburu datang, nanti bisa dimarahin habis-habisan.
“Maaf ya, Pak Tani, alam telah memanggil, pagi ini perut kami harus segera diisi. Mudah-mudahan engkau mendapat ganti bulir yang lebih banyak dan lebih baik”.

Advertisements