Saya ini termasuk orang yang pelupa. Seringkali saya mengalami lupa yang bagi orang lain sebenarnya sesuatu hal yang tak seharusnya dilupakan. Kadang banyak hal yang sudah direncanakan sebelumnya, tiba-tiba saja terlewat begitu saja dengan tanpa sadar. Banyak hal kecil, misalnya menaruh kunci yang baru saja dipakai.

simpsonAda pula kelupaan yang cukup membuat khawatir juga, misalnya koper yang lupa saya taruh dan lupa membawanya waktu di bandara, padahal bandara luar negeri. Pernah juga kelupaan menaruh paspor waktu sedang di negeri orang, bisa dibayangkan kalau ternyata paspor nggak ketemu.

Kadang saya kesal dengan diri saya sendiri dengan sifat pelupa saya ini. Apalagi kalau imbas kelupaan saya ini cukup merepotkan atau membawa dampak bagi orang lain, padahal bagi orang tersebut apa yang saya lupakan adalah sesuatu yang cukup penting. Keadaan seperti ini jadi menimbulkan perasaan bersalah pada diri saya.

Namun, menyalahkan diri sendiri nampaknya bukan perkara bijak. Semakin kita menyalahkan diri sendiri, semakin membuat kita tertekan dan ini tentu bukan hal yang baik. Akhirnya seiring waktu, saya mulai belajar memahami dan mengatasi sifat pelupa saya. ketika mau pergi jauh misalnya, saya biasanya sudah persiapkan segala sesuatunya sehari sebelum berangkat. Semua sudah harus lengkap. Saya cek berulangkali terutama barang yang wajib dibawa (SPPD misalnya). Namun, untuk hal-hal yang sifatnya mendesak, sifat pelupa saya ternyata masih sulit hilang. lagi-lagi ini membuat saya kadang tertekan dan guilty.

Saya sadari kalau sikap saya seperti ini terus maka hal ini akan menjadi lingkaran setan yang tak berkesudahan. Saya tak menjadi lebih baik tapi malah makin parah. Sampai saya sadar bahwa lupa adalah salah satu sifat manusia. Tidak ada manusia di dunia ini yang tak pernah lupa. Sekarang saya mulai agak kompromis dan pemaaf kepada diri sendiri kalau saya lupa. Tak lagi terlalu menyalahkan diri sendiri. Pagi ini misalnya, saya dan istri sudah berangkat kantor kira-kira sudah 2 atau 3 KM. Saya lupa apakah sudah mengunci pintu belakang rumah atau belum. Kami balik lagi untuk memastikan, padahal sudah siang dan nampaknya jam kantor sudah telat. Nyatanya pintu sudah dikunci. Ya, sudahlah, memang saya pelupa. Dan ketika sudah hampir sampai kantor, ternyatanya ada yang lupa gak kebawa, tas istri saya yang sudah disiapkan ternyata tertinggal di rumah..

(Dan nampaknya saya harus segera klik tombol Publish sebelum saya lupa 🙂 )

Maha Suci Allah yang tak pernah tidur dan tak pernah lupa…