“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS Ar-Ruum 30:41)

Hari-hari ini kita lihat, dengar dan rasakan, cuaca semakin tak menentu. Hujan banjir, kekeringan bencana dimana-mana. Dunia kini dihantui pemanasan global. Bagi sebagian besar kita mungkin tak begitu peduli dampak pemanasan global ini di lingkungan kita. paling paling hanya mengeluh soal cuaca yang makin gerah atau hujan deras yang turun tiba-tiba. Namun bagi 800 penduduk Pulau Miangas, Kepulauan Talaud, pemanasan global menjadi hantu yang lamban tapi pasti akan menelan pulau kecil yang jarak ke Philipina justru lebih dekat daripada ke Manado, yang memerlukan waktu sehari semalam dengan naik perahu perintis. Terpencil, seolah terapung di laut lepas, pulau yang makin lama garis pantai semakin meninggi ini menjadi kecemasan penduduk setempat, ketika suatu saat pulau ini harus tenggelam karena air laut yang makin meninggi.
Miangas hanya satu pulau yang terancam. Indonesia semula memiliki 17.504 pulau, kini tinggal 17.480 pulau karena tenggelam akibat pemanasan global atau penambangan liar. Bukan itu saja, negara-negara yang tersebar di perairan laut Afrika, Asia, Pasifik, Karibia, dan Mediterania harus bersiap kehilangan lahan pijakan hidup. Jumlahnya sekitar 42 negara. Maldives (Maladewa) bahkan mulai memikirkan untuk merelokasi seluruh penduduk ke negara lain.

Hari ini diperingati sebagai Hari Bumi. Sudahkan kita sadar bahwa kita alih-alih turut andil dalam melestarikan bumi, justru sedikit banyak tangan-tangan kita turut mencemarinya.

(posting ini saya tulis kemarin pas Hari Bumi, tapi baru sempat terpublish hati ini)