Petang itu, Parjo buru-buru pergi ke masjid karena sholat berjamaah maghrib telah dimulai. Satu dua rakaat dia biasa tertinggal, masbuq. Telat, dan berdiri di baris paling belakang menjadikannya pemandangan yang cukup kontras. Ketika yang lain salam dan mengakhiri shalat, hia hampir selalu berdiri lagi meneruskan rakaat yang ketinggalan. Jamaah lain yang hampir semua selalu datang tepat waktu, segera setelah azan. Pun Parjo selalu menggunakan batik lusuh dan sarung berlubang di tengah jamaah lain yang memakai baju jubah, putih dan wangi. Nyaris semua seragam.

Kondisi ini ternyata membuat keresahan tersendiri bagi jamaah lain. Apalagi Parjo dikenal hanya ke masjid kalau waktu Maghrib dan Isya saja. Di tengah komunitas yang nyaris sempurna seragam, kehadiran Parjo menjadi sebuah gangguan kecil yang cukup mengganggu bagi kesempurnaan itu. Lalu, di suatu hari, Ustad masjid itu akhirnya menegur Parjo.

”Shalat adalah momen penting, harus didahulukan dari pekerjaan lain. Jika azan berkumandang, kita harus meninggalkan pekerjaan dunia dan menuju masjid secepatnya untuk shalat berjamaah. Jangan suka telat”, kata Pak Ustad yang masih cukup muda ini.

”Iya ustad”, kata Parjo lirih.

”Oya, satu lagi”, lanjut pak Ustad. ”Karena shalat adalah momen yang penting dan istimewa, maka kita juga harus menghormatinya dengan semestinya. Kalau sholat ya pakailah baju yang bagus, jangan pakai baju kumal. Shalat itu menghadap Allah langsung. Mau menghadap pak lurah saja kita malu pakai baju yang tidak bagus. Apalagi menghadap Allah. Pakailah baju yang baik, yang islami, yang wangi”.

”Iya, ustad”, Kata Parjo sambil menunduk. Ia sekolah SD pun tak lulus, tak mungkin apa yang diujarkan ustad yang konon gelar sarjana berderet ini salah. Parjo juga sadar betul kalau ia yang salah. Kesalahan yang sangat besar.

Besok lagi, Parjo tak pernah datang. Jamaah sholat kembali tenang. Tak ada lagi seorang jamaah yang suka telat. Tak ada lagi jamaah yang berbaju beda dan aneh. Semua sekarang shalat tepat waktu, berpakaian sempurna, putih bersih dan wangi.

Yang tidak pernah orang tahu adalah bahwa Paijo hanya seorang tukang bakso ojek. Sebelum subuh dia harus mempersiapkan dagangan sehingga tidak bisa shalat jamaah di masjid. Seharian dia berkeliling berjualan bakso ojek. Jika sempat, dia bekerja serabutan, apapun yang dapat dilakukan asalkan halal. Dia pulang sudah hampir maghrib. Buru-buru mandi dan bergegas ke masjid. Baju batik kumal dan sarung yang bolong di beberapa tempat adalah satu-satunya baju dan sarung terbaiknya. Ia tak mampu membeli baju lain yang lebih bagus.

Tak ada orang yang tahu hal ini. Bahkan mungkin tak ada jamaah masjid itu yang tahu, kalau ia bernama Parjo..