Seorang tukang becak melintas di depan baliho besar yang mensosialisasikan cara pemilu 2009, acuh tak acuh. Hingar bingar kampanye seperti pemilu-pemilu sebelumnya nampaknya tak terjadi di pemilu sekarang. Entah karena aturan lebih ketat atau karena orang sudah malas dan skeptis dengan pemilu.

Di tengah krisis yang melanda seluruh belahan dunia, kita sekarang tengah pesta pora demokrasi. Betapa tidak disebut pesta pora, biaya untuk menyelenggarakan pemilu super mahal sampai Rp. 47.941.202.175.793 atau Rp 271.376,- per orang. Dengan sistem seperti sekarang, pendidikan politik masyarakat yang masih memprihatinkan seperti sekarang, rasanya sulit berharap jika pemilu ini akan memberikan hasil yang sepadan dengan biaya yang dikeluarkan. Para Caleg berlomba-lomba tebar pesona dengan apalagi kalau bukan uang. Tidak sedikit, bahkan mungkin sebagian besar, caleg yang berlomba untuk berebut kursi untuk mendapat keuntungan yang lebih besar, bukan menjalankan amanah. Tak sedikit yang harus berhutang sana-sini yang tentu saja sulit diharapkan kalau nanti caleg ini terpilih apakah akan menjadi wakil rakyat atau hanya akan menjadikan jabatannya untuk mengembalikan dan melipatgandakan modal. Yang memprihatinka, masyarakat-pun banyak yang menjadi pragmatis, akan mencoblos caleg yang mau memberi uang paling banyak! Akibatnya pemilu tinggal “pesta” nya saja, sementara demokrasinya? nol besar.

Saya tak mengatakan untuk jangan menggunakan hak pilih. Saya juga tidak tahu apakah saya akan ikut mencoblos mencontreng atau tidak. Yang jelas semakin lama nuansa skeptik rasanya makin menebal, jauh dari hingar bingar harapan perubahan ketika reformasi 1997 lalu.
Jadi, tidak mencontreng ataupun mau mencontreng, partai apapun(partai nasionalis atau bukan, partai Islam atau non-Islam bukan, partai wong cilik atau wong gede, partai gurem atau partai gajah), mari kita berdoa dengan ikhlas, mudah-mudahan kita semakin dewasa dalam berbangsa, dan negeri ini menjadi lebih baik dan lebih layak ditinggali anak cucu di masa depan.

*) foto saya ambil di dekat dekat PJKA waktu berteduh kehujanan