Beberapa hari lalu, saya dan istri sedang dalam perjalanan dari kantor. Saya berkendara tidak terlalu cepat. Di sebuah jalan kami berpapasan dengan anak kecil bersepeda menyeberang jalan, membawa seekor kucing. Melihat saya yang jalannya tidak terlalu cepat dia nyelonong menyeberang. Saya sedikit kaget tapi saya biarkan saja. Saya pikir kalau saya klakson dia malah kaget dan bisa jatuh. Tapi ternyata tidak tahu kenapa, anak kecil ini tiba-tiba nyelonong kebablasan sampai masuk selokan, mungkin karena dia ragu-ragu menyeberang. Saya sempat lihat dari kaca spion motor dia tidak bisa mengendalikan sepeda, kucingnya melompat, dan dia dan sepedanya terjungkal ke selokan. Saya berhenti dan khawatir juga karena selokan itu cukup tinggi dan sudah dibangun permanen dengan tembok kasar. Tubuh dan sepedanya tidak kelihatan saking tingginya dan lagi pulan saya sudah berjarak kira-kira 5 meter dari selokan itu. Kalau saja anak tadi terbentur tembok bisa jadi agak parah juga. Saya lalu memarkir motor dan bergegas ke anak tadi. Alhamdulillah, saya melihat kepalanya nongol, berarti dia tidak apa-apa, meski sudah basah kutup. Saya tanya apa ada yang sakit, dia bilang tidak apa-apa. Saya lalu membantu mengangkat sepedanya ke jalan.

Saya teringat waktu saya kecil, sekitar kelas 6 SD, saya pernah jatuh ke selokan bersama adik saya yang baru pulang saya jemput dari TK. Saya tidak apa-apa waktu itu, tapi adik saya wajahnya terbentur kayu atau sepeda sehingga memar dan cukup parah. Dari hidungnya sempat keluar darah kental. Kasihan sekali. Kami ditolong orang sekitar dan ada yang mengantarkan kami pulang. Saya tahu rasanya jatuh, tahu rasanya ditolong orang, jadi saya merasa pada kejadian serupa tentu saya sudah seharusnya saya juga gantian menolong. Kadang memang empati itu tumbuh ketika kita pernah mengalami dan merasakan hal serupa.

Advertisements