Melihat fenomena jejaring sosial akhir-akhir ini memang menarik. Ada segi positif, negatif ataupun sisi ”abu-abu” nya. Salah satu berita bagusnya, fenomena global menunjukkan bahwa akses ke jejaring sosial makin diminati dan disinyalir mulai menyaingi akses ke konten pornografi. Di Indonesia, salah satu layanan jejaring sosial yang baru ngetren dan cukup fenomenal adalah Plurk. Saya lihat ada beberapa hal kenapa Plurk diminati.

  1. Tidak seperti blog, untuk menulis posting di Plurk tidak perlu berfikir.
  2. Plurk tampil dengan timeline yang unik (berbasis Ajax). Saya sendiri lebih nyaman dengan versi mobile-nya.
  3. Plurk sangat interaktif dimana setiap thread dapat menjadi sebuah diskusi. Orang menyebutnya microforum.

Ketika beberapa saat saya mulai menggunakan Plurk saya mulai menemukan bahwa Plurk juga menampilkan sisi negatifnya:

  1. Plurk membuat pengguna sangat addiktif. Kita menjadi ketergantungan dan selalu tidak konsen bekerja karena selalu bertanya-tanya, ”apakah ada yang baru di Plurk?”
  2. Time wasting. Kita bisa setiap saat membuka Plurk hanya untuk melihat thread baru, mengecek respon teman terhadap thread kita atau merespon Plurk teman. Ini dapat mengganggu produktifitas, apalagi kebanyakan thread, menurut saya, tidak penting!.
  3. Karma, sistem rangking/skoring yang khas Plurk, menurut saya, tak ada manfaatnya selain untuk ”keren-kerenan”. Banyak diskusi yang sibuk bicara bagaimana meningkatkan Karma…
    Dari awal saya tidak begitu peduli dengan karma saya.
  4. Posting yang sangat instan membuat pengguna menjadi ”malas” untuk menulis yang lebih serius. Banyak thread di Plurk yang isinya relatif tidak penting atau cuma kata ”Selamat Pagi”, ”melapar” atau bahkan cuma emoticon.
  5. Ekspresi berlebihan bisa jadi berbahaya. Kebanyakan Plurker selalu mengupdate kondisi dan posisi. Jika informasi yang di-posting sangat detil bisa rawan terhadap kejahatan.

Melihat kondisi masyarakat kita yang memang malas menulis, kurang kerjaan (alias banyak waktu luang), suka dengan basa-basi, nampaknya menjadikan Plurk menjadi media yang klop!

Lalu, dengan melihat sisi negatifnya apakah kita yang terlanjur nge-Plurk perlu berhenti? meski saya awalnya getol mengenalkan Plurk ke teman-teman, saya pernah juga terfikir untuk itu 🙂
Namun saya pikir dan baca-baca referensi, Plurk masih ada baiknya, diantaranya

  1. Plurk menjadi pengisi waktu luang yang menarik.
  2. Plurk sangat efektif untuk mencari teman baru atau media relasi di antara teman. Tidak seperti blog, perlu berfikir ketika menulis atau komentar, di Plurk lebih bebas karena menulis atau komentar apapun tidak jadi masalah.
  3. Plurk dapat menjadi personal branding. Orang dapat menilai diri kita dari sini dan posting yang kita buat di Plurk. Jadi, sebaiknya ngePlurk-lah yang bernilai manfaat.
  4. Plurk dapat menjadi media marketing. Bayangkan jika kita punya produk yang kita jual, lalu kita publikasikan ke teman-teman di Plurk. Saya kira, pembeli cenderung lebih percaya dan lebih punya greget beli jika kenal dengan penjual (dalam hal ini kenal melalui Plurk). Bayangkan jika Anda seorang penulis dan banyak teman di Plurk, maka orang barangkali lebih tertarik beli buku itu karena merasa sebagai temannya 
  5. Meski belum terbukti (ini hanya asumsi pribadi), Plurk dapat berpotensi meningkatkan trafik. Saya beberapa kali mendapat referer dari thread di Plurk dan beberapa kali mendapati hasil pencarian Google yang merujuk ke blog kita melalui thread di Plurk.

Ini pendapat pribadi saja. Saya sendiri memilih untuk tetap nge-plurk, meski frekuensinya cukup jauh berkurang