Saya pernah menulis tentang betapa sebenarnya kita ini cukup berboros dalam menggunakan air dalam berwudlu (dan tentu juga hal lain, namun disini saya lebih tekankan dalam soal wudlu). Saya kira ada banyak air yang terbuang saat kita berwudlu yang sebenarnya bahkan tak sampai menyentuh kulit. Bisa dibayangkan seberapa besar kita ikut andil dalam pemborosan ini. Padahal dalam agama kita dilarang berbuat boros termasuk dalam penggunaan air dalam berwudlu.

Kita untungnya tinggal di wilayah yang relatif kaya air, sehingga kita tak merasa berboros dalam menggunakannya. Bayangkan kalau kita di negri yang airnya minim, atau suatu ketika wilayah kita dilanda kekeringan.

Sebenarnya kita dapat mencoba untuk lebih hemat dalam penggunaan air wudlu, khususnya dalam “memanfaatkan” air secara maksimal. Jika ditilik dalam penggunaannya, bekas air wudlu sebenarnya relatif masih bersih. Air ini sebenarnya masih dapat digunakan untuk, misalnya menyentor WC, menyiram tanaman, atau mencuci kendaraan dsb.

Saya perhatikan, saat wudlu, kita ini kan sering membiarkan kran terbuka ketika kita mengambil air dengan tangan lalu membasuhkan ke muka, maka kran masih terbuka dan air akan terbuang cukup banyak. Biasanya air yang masih bersih ini dibuang begitu saja.

Beberapa pengalaman teman, dan saya juga mencobanya, air yang mengalir dari kran tadi dicoba untuk ditampung ke ember, juga misalnya sisa air waktu membasuh tangan. Tentu saja air bekas berkumur dan membasuh kaki tidak ditampung di ember ini tapi langsung di alirkan ke pembuangan. Lebih mudahnya jika kita pakai selang yang agak panjang sehingga kalau mau berkumur atau membasuh kaki selang bisa dibelokkan ke tempat lain supaya tak masuk ke ember.

Air di ember tadi bisa dimanfaatkan untuk  membilas lantai kotor atau menyiram tanaman atau menyentor WC. Tidak terlalu kotor untuk itu kan? Ini tentu trik sederhana untuk rumahan. Bagaimana dengan desain yang lebih permanen (tempat wudlu masjid misalnya).

wudlu2Saya membuat gambar desain sederhana yang masih sederhana untuk ini yang bisa dipakai pada skala yang lebih besar. Desain ini kuncinya terletak pada ujung kran (bisa ujung yang ditambahi perpanjangan) dan penampung air pembuangan.

Pada kran kita tambahkan semacam pipa berbentuk seperti huruf “Z” yang dapat diputar secara fleksibel. Sementara untuk penampung air sisa wudlu dibuat dua, satu penampungnan terletak di bawah yang langsung dialirkan ke pembuangan, satunya adalah penampung air yang masih relatif bersih, sebaiknya ditempatkan di tempat yang agak tinggi, yang airnya bisa dialirkan untuk penyentor WC atau yang lain. Posisi lebih tinggi juga dimaksudkan agar air dapat mengalir dengan lebih lancar

Ketika kita berkumur atau membasuh bagian tubuh yang “kotor”, termasuk kaki, maka kran dialirkan ke penampung bawah untuk dibuang. Ketika untuk membasuh tangan, muka dll, maka kran diputar agar mengarah ke penampung atas dan dialirkan ke tempat lain yang membutuhkan.

Penampungan air ini (atas dan bawah) dibuat memanjang sehingga akan menampung banyak kran. Salah satu kendalanya mungkin adalah orang yang berwudlu mungkin tidak tahu maksud dibuatnya model seperti ini sehingga sangat mungkin dia akan mengalirkan air ke penampung atas saja, atau ke bawah saja. Untuk itu perlu diberi semacam panduan di tempat wudlu tersebut.

Jika ini dipraktikkan di masjid-masjid besar saya yakin kita akan cukup banyak dalam menghemat penggunaan air. Desain ini hanya mereka-reka saja karena saya juga bukan ahlinya. Lain waktu mungkin saya akan coba buat yang lebih baik. Mari kita jaga dan lestarikan lingkungan.

Semoga bermanfaat.