Sewaktu ada tugas luar dinas di daerah di sebuah kabupaten di Jawa Timur, saya dan teman saya sempat berbincang agak lama dengan salah seorang pejabat di sana. Mulanya kami bicara seputar kegiatan kantor, sampai pejabat ini bilang kalau 3 bulan lagi sudah pensiun. Saya berpikir bapak ini dedikasinya besar, padahal sudah mau pensiun tapi masih memikirkan bagaimana menyiapkan dan menata pekerjaan yang nanti ditinggalkan agar bisa diteruskan dengan lebih mudah oleh penggantinya. Lalu teman saya bercerita bahwa bapaknya dulu ketika sudah pensiun lalu bertemu teman lamanya dan temennya bilang begini : “Wah, ternyata sudah pensiun to?” Dijawab bapak teman saya ini setengah bercanda, “Pensiun itu tidak mudah lho..”

Lalu diceritakan bapaknya tentang filosofi kelapa dan semangka. Katanya jangan seperti kelapa, yang dari awal tumbuh sudah di atas terus, pohonnya tinggi, susah mau mengambil buah, mengambil buahnya pun dengan dibanting di tanah, mengambil daging buahnya di pecah dulu, lalu diparut dan diperas. Kalau semangka, dari awal sudah dibawah, ibaratnya ditendang-tendang, tapi kalau sudah matang mengambil buahnya jadi mudah, terus mau makan diletakkan di meja, diiris pakai pisau yang bersih. Intinya kalau jadi orang jangan minder kalau memulai dari bawah, dari yang semula tidak dihargai tapi pada akhirnya ketika kita menunjukkan kesungguhan dan kebaikan maka orang akan menghargai sepenuhnya
(seperti semangka). Jangan seperti kelapa yang dari awal sudah selalu enak dan mudah, jangan-jangan nanti pada akhirnya malah dicemooh dan tidak dihargai orang. Begitu juga dengan profesi kita, mungkin kita memulai dari nol, tapi ketika pensiun kita menunjukkan kerja yang membanggakan. Jangan ketika dari awal sudah di posisi enak ternyata mau pensiun saja malah susah, tersandung masalah lah, atau post power syndrom lah, dan lain-lain.

Mendengar itu pejabat yang kami temui terdiam sesaat, lalu beliau mulai membuka ceritanya, dengan mata yang hampir berkaca-kaca. Beliau memulai cerita bahwa dulu ketika kecil hidupnya cukup susah. Orangtuanya hanyalah penjual tempe. Ketika ada kesempatan sekolah beliau meneruskan sampai tingkat SLTA. Sebenarnya dulu disuruh sekolah guru, karena ibunya ingin sekali anaknya menjadi guru. Namun, bukannya durhaka, karena merasa tidak cocok, diam-diam beliau tidak melanjutkan ke SPG seperti keinginan ibunya, tapi ke SMA umum karena memiliki cita-cita lain. Beliau bercita-cita menjadi tentara di Angkatan Udara. Katanya, beliau senang sekali kalau melihat gambar pesawat tempur dan ingin suatu saat menjadi pilotnya. Lulus SLTA beliau mendaftar di AKABRI. Semua ujian sudah dilalui dengan nilai memuaskan, dan dinominasikan di Angkatan Darat dan Angkatan Laut. Namun, nasib berkata lain, beliau gagal dalam satu ujian, berenang!

Sempat frustasi, beliau-pun akhirnya memulai hidup lagi, kali ini beliau memutuskan untuk menjadi kuli bangunan. Namun waktu itu beliau berprinsip kita boleh saja menjadi kuli, tapi jangan bermental kuli. Pekerjaan ini dilakoni sampai sekitar 9 bulan. Sambil menjadi kuli beliau melihat salah satu sekolah dan merasa kok sepertinya menyenagkan juga menjadi guru. Akhirnya beliau mendaftar menjadi guru honor di sekolah tersebut. Setelah beberapa waktu mengajar, akhirnya muncul kebosanan juga dan memutuskan untuk keluar. Namun, ketika belum sempat keluar, sekolah itu mengikuti turnamen yang diikuti sekolah-sekolah dan dinas pendidikan. Berbekal kemampuan di salah satu olahraga, yaitu bulu tangkis, beliau menang di cabang itu. Oleh orang dinas beliau lalu ditawari bekerja di dinas pendidikan. Akhirnya bapak ini bekerja di dinas meski serabutan mbantuan banyak pekerjaan. Karena pekerjaan bagus makin lama makin dipercaya sampai akhirnya diangkat PNS dan akhirnya belasan tahun kemudian dipercaya menjadi pejabat. Dengan jalan hidup yang tidak mudah seperti ini beliau mengaku justru lebih bisa melihat hikmah, juga bisa lebih bisa menghargai kerja dan perjuangan orang lain maupun berempati dengan kesulitan orang. Beliau mengaku tidak pernah dan tidak mau menerima sepeserpun ketika mengurusi banyak pekerjaan yang berhubungan dengan mutasi guru, pengangkatan kepala sekolah dan hal-hal lan yang sebenarnya berpotensi sebagai lahan basah. Bahkan sekedar amplop uang lelah dari kami karena telah membantu pekerjaan kami, langsung disarankan untuk diserahkan ke bawahan yang mengurusi langsung pekerjaannya, tanpa pernah menyentuh ataupun ingin tahu jumlah isi amplop tersebut.

Saya terkesan dan terharu, ternyata masih ada juga pejabat yang jujur dan penuh dedikasi seperti bapak ini. Dan ketika berpamitan saya mengucapkan terimakasih dan mendoakan semoga akhir jabatan beliau menjadi akhir yang khusnul khatimah dan bermanfaat bagi orang banyak.