Saya dan beberapa teman memiliki langganan makan di salah satu angkringan. Dulu kami sering mampir ke angkringan ini setelah pulang kantor. Kadang selain makan, kami ngobrol lama sampai malam. Bapak dan ibu penjual angkringan ini sampai hafal. Sekarang, meski jarang ngangkring bareng, biasanya angkring itu jadi tempat absen. Kalau makan di situ pasti dibilang kalo si A barusan dari situ, atau nanya si B kemana kok beberapa hari nggak nongol. 🙂
Ada yang unik dari angkring ini, selain makanannya cukup sesuai selera kami, penjualnya juga ramah. Bapak dan ibu penjual angkring ini lugu sekali. Si bapak biasanya menyerahkan urusan hitung-menghitung kepada si ibu karena untuk urusan menghitung bapak ini terlihat tidak begitu menguasai. Misalnya menghitung harga gorengan yang Rp.500 per biji kalau jumlahnya tiga ke atas sering lama menghitungnya dan kadang salah. Saya beberapa kali membantu menghitungkan kalau si bapak kesusahan menghitung dan seringkali memang selisih dan merugi beberapa ratus rupiah. Perlu diingat bahwa bagi penjual angkring pinggir jalan, uang segitu sangat berharga. Pernah suatu malam ada pembeli yang membayar, setelah dihitung ulang dan ternyata kembalian rugi Rp.500, padahal pembeli sudah pergi. Saya cuma komentar, “Ya sudah pak, diniatkan shodaqoh”, begitu saya bilang. Si Bapak cuma tersenyum

Pernah juga satu kali bapak itu bertanya kalau ngantor seperti kami gaji bulanannya berapa (dia tidak nanya langsung sih, tapi bertanya begini, “Si mbak itu sebulan gaji nya sampai berapa?”). Dia bertanya apakah sampai Rp.400 ribu. Wah, kami juga agak repot menjawabnya. Jadi cuma menjawab ada. Dia berkata lagi, “Wah, lumayan besar ya”. Saya lalu berfikir mungkin gaji Rp.400 ribu sebulan bagi bapak itu memang sesuatu yang memang besar (seperti rugi kesalahan menghitung kembalian yang bagi kita hanya receh yang tak begitu berharga). Belum lagi kalau dihitung jika dagangan nggak laku atau resiko yang lain.

Saya lalu berfikir lagi, alangkah tidak bersyukurnya saya kalau masih saja merasa rejeki selalu kurang, padahal tiap awal bulan sudah tinggal tanda tangan dan terima amplop gaji, tak perlu mikir punya dagangan yang akan basi kalau tidak laku, atau modal yang tidak balik seperti si Bapak dan Ibu penjual angkringan dan banyak saudara-saudara kita lainnya.
Maaf dan terima kasih, Ya Allah…

“Bersyukurlah karena Allah akan menambahkan nikmat jika kita mau mensyukurinya”…

Advertisements