Setiap orang pasti pernah mengalami masalah, cobaan atau hal-hal yang tidak mengenakkan dalam kehidupan. TIdak saja masalah dialami oleh orang-orang miskin tak punya uang, namun masalah juga para konglomerat yang kekayaannya berjibun. Tak hanya orang kecil di desa pelosok, namun juga pejabat tinggi di kota besar.
Tadi ketika khutbah Jumat, khatib menyinggung bagaimana orang-orang menyikapi ketika cobaan itu datang. Diantara sikap-sikap itu al.
1. Marah. Orang menjadi merasa bahwa Allah tidak adil, tidak penyayang dsb.
2. Sabar. Dengan cobaan kita dapat menerimanya.
3. Ridlo. Rela Menerima dan menganggap semuanya adalah hal yang wajar/sudah sepatutnya.
4. Syukur. Mensyukuri bahwa dengan semua itu menadai tanda bahwa Allah masih mengasihi kita, meskipun dengan cara yang tidak kita sukai. Mungkin itulah cara Allah menegur atau menuntun kita.

Keempat-empatnya sebenarnya berujung kepada sikap kita kepada Allah. Bagaimana kita menganggap Allah. Padahal, seperti disebut dalam sebuah hadits qudsi, Allah itu seperti prasangkaan hamba-Nya (Kitab Hisnul Muslim).

Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai dengan persangkaan hambaKu kepadaKu, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat) bila dia ingat Aku.  Jika dia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam diriKu. Jika dia menyebut namaKu dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepadaKu sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”.

Maka, dengan cobaan dan segala sesuatu yang tidak mengenakkan menimpa diri dan kehidupan kita, hendaklah kita mampu menyikapinya dengan tepat; kita bersabar, ridlo dan kalau bisa tetap bersyukur..