Pembajakan di Indonesia memang memprihatinkan. Kini tidak saja software buatan luar negeri yang dibajak, software buatan bangsa sendiripun jadi korban. Dulu pernah ada dosen saya yang berkisah tentang software yang beliau buat yaitu tools penerjemah Bahasa Inggris-Indonesia. Karena beliau memang pakarnya, hasil terjemahan dengan software ini cukup bagus. Namun, ternyata karya ini tiba-tiba dijual di publik sebagai CD bajakan. Bukan cuma itu, beliau bilang ada seseorang yang beli CD itu lalu karena mungkin merasa kurang puas, komplain dan mencak-mencak. Waduh, ini udah jadi korban pembajakan dan dimaki-maki orang. Udah jatuh, ketimpa tangga, kejatuhan gentengnya pula… :))

Kemarin saya mendapat SMS dari seseorang yang bertanya dan mungkin akan komplain tentang aplikasi Java yang pernah saya buat. Namun setelah saya jelaskan, dia jadi tahu duduk perkaranya. Dia mengaku membeli CD berjudul Islam Gallery di salah satu toko buku di Kwitang. Di CD itu ada beberapa software yang pembuatnya adalah saya. Saya tentu saja bingung karena tidak pernah menjualnya. Saya saat ini hanya mempublikasikan aplikasi saya melalui website. Yang membuat saya geleng-geleng kepala adalah katanya dia mendapat nomor HP saya dari CD tersebut..
Saya sih gak masalah kalau aplikasi freeware saya disebarkan asalkan bukan untuk tujuan komersil dan saya tekankan di sini kalau saya tidak menjual aplikasi di beberapa CD yang beredar tersebut dan tentu saja bukan tanggung jawab saya jika anda membeli CD itu dan mendapati ada kerusakan teknis atau semacamnya. Namun, jika berkait dengan masalah isi/materinya, saya dengan senang hati akan menerima masukan, kritik dan saran.