Sewaktu menghadiri wisuda di UIN Jogja minggu lalu saya sempat berkeliling. Seperti saya posting beberapa waktu lalu, saya pernah lama di lingkungan ini, dengan segala suka-dukanya. Tapi kondisi sekarang sangat lain. Saya tidak lagi menemukan gedung-gedung yang dulu, termasuk masjid yang kami di pernah bersembunyi ketika dikejar-kejar aparat. Suasana jalanan yang dulu teman-teman sering menyanyikan lagu Darah Juang 🙂 juga sudah beda. Gedung-gedung sekarang berganti menjadi gedung-gedung megah. Ada sedikit rasa kehilangan dimana saya agak sulit ketika mau ‘napak tilas’ masa lalu. Meski kondisi fisik gedung jauh lebih bagus. Saya sadar sedang tidak membutuhkan sesuatu yang bersifat material.

Saya jadi berfikir, benar juga ya ketika banyak bangunan bersejarah tempo doeleo yang diruntuhkan dan dibangun bangunan yang meskipun lebih mewah, tapi ruh-nya sudah menjadi lain. Itu seperti sedang menggusur sejarah. Sewaktu ada reuni SMA saya, ada seorang alumni, seorang mantan menteri yang dengan bersemangat bercerita kenangan masa lalu dan menunjukkan tempat-tempat di sekolah dimana dulu pernah menajdi bagian hidupnya. Untungnya bangunan sekolah saya ini masih seperti dulu, ada beberapa gedung dibangun, namun bangunan inti masih tidak banyak berubah. Prihatin juga kalau membaca-baca banyak ‘monumen’ sejarah harus digusur untuk kepentingan bisnis dll.

Sebagai personal ataupun komunitas, menurut saya, bagaimanapun kita ini ternyata memang membutuhkan sebuah pijakan dari masa lalu kita untuk menatap dan membangun masa depan.

Advertisements