Pada hari-hari itu kami ada semacam kegiatan rutin. Ketika pagi dan siangnya ada demonstrasi, maka sore dan malam harinya kami berkumpul menonton berita TV dan melihat siapa yang beruntung tersorot kamera 😀 (karena kota lain belum marak demo, waktu itu demonstrasi di Jogja mendapat porsi liputan yang banyak). Waktu itu memang tiba-tiba saja banyak teman-teman yang wajahnya masuk TV atau koran.
Saya seringkali tidak jadi kuliah karena di jalan ikut demo. Slogan-slogan takbir, atau sholawatan menjadi semacam tradisi demo di sana. Selain itu ada juga lagu wajib bernada melo mahasiswa kala itu pasti hafal, judulnya Darah Juang.
Liriknya kurang lebih begini

Disini negeri kami
Tempat padi terhampar
Samuderanya kaya raya
Negeri kami subur Tuhan
Dinegeri Permai ini
Berjuta rakyat bersimpah luka
Anak kurus tak sekolah
Pemuda desa tak kerja
Bunda relakan darah juang kami
tuk membebaskan rakyat
Bunda relakan darah juang kami
padaMu kami berjanji

Oya, sebenarnya pada waktu itu masih banyak pihak lho yang ragu-ragu atau masih alergi dengan demo dan tuntutannya. Beberapa TV misalnya, sempat mengeluarkan seruan untuk ‘mempercayakan kapal kepada nahkoda untuk menghadapi badai’. Salah seorang dosen saya pernah juga bilang tidak ada gunanya demonstrasi, katanya mending pacaran. Banyak pula masyarakat yang mengomel karena dengan demo kondisi jadi tidak aman dsb…
Soal masyarakat yang mendukung kepemimpinan pak Harto menurut saya memang karena kokohnya kekuasaan waktu itu. Saya kira pada SU MPR yang memilih Pak Harto sebagai presiden lagi pada kenyataannya juga didukung oleh sebagian besar rakyat. Hanya sebagian yang memang mengetahui kondisi sebenarnya yang menentang, itupun dibungkam habis. Jika saja waktu itu tidak dibarengi krisis ekonomi, demonstrasi mahasiswa kiranya hanya akan berakhir seperti akhir tahun 70-an.

Dan ketika itu demo semakin massif dan penuh kekerasan dan meluas ke kota-kota lain. Beberapa titik yang sempat rutin menjadi ajang konfrontasi mahasiswa dan aparat terjadi di sekitar UGM, IAIN,Gejayan dan beberapa titk lain. Tak terhitung yang luka-luka, bahkan di Gejayan ada yang tewas. DI IAIN, kejadian yang cukup parah malah terjadi ketika demonstrasi yang dilakukan di Instiper di depan IAIN. Saya yang mau berangkat kuliah jadi tertahan, jadi saya ikut duduk nonton demo di gedung Ushuludin. Ternyata demo kampus tetangga itu ricuh. Mahasiswa IAIN jadi kena getahnya karena ikut diserbu. Kami lari tunggang langgang. Sebagian lari ke gedung kampus, atau rektorat. Tapi aparat tetap merangsek. Banyak yang tidak tahu apa-apa yang tiba-tiba dihajar. Ada teman-teman yang baru ngumpul di UKM main gitar dsb tiba-tiba didobrak aparat dan tanpa basa-basi dihajar habis. Saya lihat sepintas di belakang banyak yang diseret aparat. Saya lari sampai gang-gang kecil di Sapen, ternyata masih dikejar. Waktu itu kalau salah memilih jalan bisa malah ketemu aparat, maunya lari dari kejaran ternyata kadang di depan aparat lebih banyak lagi.

Ketika kondisi saya kira sudah agak reda saya sempat ke kampus IAIN lagi. Ternyata masih terjadi kejar-kejaran. Saya dan beberapa teman,sekitar 20an orang lari ke masjid. Di depan gerbang, sebuah panser water-canon berhenti dengan moncong mengarah ke kami.Kami berdiri di halaman dan serambi. Beberapa saat tidak ada gerakan apa-apa. Sepi tapi mencekam. Tiba-tiba ada seorang teman berteriak-teriak ketika dia melihat ternyata diam-diam sepasukan aparat menyerbu dari samping masjid, kami lari masuk ke dalam, berdesak-desakan di imaman masjid. Karena ketakutan kami tak henti-hentinya bertakbir. Ternyata aparat tidak peduli, mereka serentak menyerbu masuk ke masjid. Untungnya sebelum terjadi kekerasan, komandannya berteriak: “Berhenti, ini masjid..” Hanya dia yang melepas sepatu dan masuk masjid, aparat lain masih dengan sepatu dan lengkap dengan senjata lalu mundur di belakangnya. Lalu komandan ini duduk di tengah masjid dan meminta kami untuk membubarkan diri. Kami mau bubar setelah ada jaminan keamanan bahwa waktu pulang tidak akan ditangkap atau dipukuli.
Esoknya berita ini muncul di halaman depan sebuah koran: Aparat menyerbu masjid IAIN. Ada fotonya juga ketika aparat sedang berlari di tangga saat menyerbu masjid. (Sayangnya koran itu tidak saya simpan, jadi gak punya dokumentasi deh 😦 ).
Dari kejadian hari itu, beberapa teman kos sebelah pulang dengan tubuhnya ada cap rotan, cap sepatu, atau gigi tanggal 🙂

Hari-hari berikutnya banyak sekali bentrokan dan perusakan. Namun, Sri Sultan yang aktif turun ke beberapa titik panas menenangkan massa membuat Jogja tidak dilanda kerusuhan yang hebat. Di Solo misalnya, kerusuhan terjadi di mana-mana dengan korban yang banyak berjatuhan.

Demo yang makin marak dan penuh kekerasan akhirnya memaksa pak Harto membuka diri. Waktu itu mengundang beberapa tokoh semisal Kyai Alie Yafie, Cak Nur, Cak Nun, Gus Dur dll ke Istana Negara. Waktu itu kebetulan ada seorang teman yang ternyata ikut ke Istana, waktu itu mengantarkan seorang tokoh. Padahal beberapa hari sebelumnya dia kelihatan mampir di kos belakang dan malam harinya orasi di IAIN. Waktu orasi itu sempat menyebut nama lengkap Pak Harto tapi ditambah huruf “A” didepannya. Pas ditayangkan di TV, kami pun langsung mengenalinya.
Waktu itu ada yang nyeletuk dengan nada bercanda, “Wah gimana tuh, kemarin barusan bilang pak Harto A**, sekarang malah salaman dengan Pak Harto”.. 😛

Pada 20 Mei 1998 mahasiswa Jogja akhirnya sepakat mengadakan unjuk rasa damai yakni dengan Pisowanan Ageng di Keraton Yogyakarta. Peristiwa ini sangat mengharubiru bagi yang ikut kala itu. Bagaimana tidak, diperkirakan 1 juta mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan tumplek menyemut di Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta mendukung reformasi dengan damai. Hampir tidak ada yang berkendaraan, semua berjalan kaki dari penjuru Jogja. Saya waktu itu ikut bersama rombongan mahasiswa IAIN (saya waktu itu masih terdaftar sebagai mahasiswa di IAIN). Kami berjalan kaki dari kampus melewati Jalan Solo lurus sampai Tugu, belok kiri melewati Mangkubumi dan Malioboro. Jalanan sangat padat, penuh dengan lautan manusia, sehingga mungkin perlu waktu 1 jam lebih untuk melewati Malioboro saja.

Di jalan-jalan, masyarakat sekitar menyambut dengan antusias, di jalanan itu kami disediakan makanan dan minuman yang berlimpah. Yang membanggakan, meski dengan skala sebesar itu, tak satupun ada insiden, sekecil apapun. Bandingkan dengan kota-kota lain, Solo atau Jakarta misalnya. Waktu itu Sri Sultan HB X mengeluarkan maklumat yang dikenal sebagai Maklumat Yogyakarta mendukung upaya reformasi. (Sayangnya, sekali lagi, saya tidak memiliki foto dokumentasi peristiwa in…)

Keesokan harinya pak Harto mundur dari jabatan presiden. (Saya agak telat tahu, karena paginya saya sedang mendaftar ke sebuah organisasi intra-kampus).
Sebuah harapan tersemai, yang ternyata seiring waktu, harapan itu masih utopia.. 😦

Setelah masa itu saya sudah tidak pernah lagi ikut-ikutan demonstrasi atau aksi-aksi massa. Toh dulu-pun saya juga bukannya penggerak atau aktor, cuma simpatisan. Ya, akhirnya lebih fokus ke menyelesaikan kuliah. Apalagi dengan usia yang semakin bertambah sepertinya bukan masanya lagi deh untuk demo-demoan atau kritik yang berlebihan (biar yang sekarang jadi mahasiswa yang melakukan). Mungkin yang kayak saya ini lebih baik untuk berusaha menjadi bagian dari pemecahan masalah ataupun kalo mengkritik ya yang konstruktif dan tidak perlu emosional..

Bravo 100 Tahun Kebangkitan Nasional Indonesia…

Tak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan

Foto-foto: okusi.net