Kalau ingat hari-hari ini tapi dengan setback10 tahun lalu, kita pasti tak akan lepas dari gegap gempita reformasi. Hari-hari yang mungkin tak akan pernah terlupakan. Saya waktu itu memang tinggal dan wira-wiri di kawasan yang cukup ‘panas’ (IAIN dan UGM). Bahkan tahun-tahun sebelum ’98 pun sudah terasa panasnya. Saya sejak waktu SMA kost di lingkungan mahasiswa, dengan berbagai latar aktifitas organisasi kemahasiswaan. Jadi, sejak SMA saya sudah cukup terbiasa wacana-wacana kontemporer waktu itu dan bagaimana kontrol pemerintah yang cukup keras. Waktu itu seingat saya ada majalah kampus yang menurunkan artikel tentang kekayaan Pak Harto, langsung dibredel (kebetulan ada teman saya yang menjadi redaksinya) dan disambut dengan demonstrasi (yang skalanya masih kecil, karena tema ini waktu itu kurang populer dan cukup beresiko). Selain itu ada juga demonstrasi besar menentang SDSB yang cukup sukses.

Ada lagi persitiwa yang sempat meletup ketika menjelang Pemilu 1997. Pada waktu kampanye, salah satu parpol cukup arogan memaksa massa untuk mengikuti slogan/simbol mereka, dulu dengan mengacungkan dua jari. Karena beberapa tidak mau akhirnya ada yang dikejar, dengan senjata tajam (waktu itu sudah biasa kalau kampanye sambil membawa parang atau pedang). Ada seorang mahasiswa yang dibacok, dan ada oknum yang mengejar sampai masjid di IAIN dan membubarkan jamaah sholat maghrib.

Peristiwa ini seperti klimaks dari kejadian-kejadian serupa. Malam itu juga massa berkumpul di depan masjid IAIN, termasuk saya yang ingin tahu kejadian dan sebenarnya hanya mau makan malam. Semakin lama semakin banyak massa datang. satu-dua suara kekecewaan muncul dalam bentuk yel-yel
ketidak puasan terhadap arogansi salah satu parpol penguasa waktu itu. Bahkan kemudian, atribut parpol ybs yang ada disekitar lokasi dibakar (waktu itu tindakan semacam ini sangat berani dan sangat beresiko sekali). Tiba-tiba saya menyadari bahwa kampus sudah dikepung rapat oleh aparat keamanan. Suasana menjadi tak menentu. Di luar kampus terdengar tembakan berkali-kali (saya baru tahu kemudian, ternyata di luar kampus kejadiannya lebih parah). Sementara di dalam, massa juga semakin kalap, melempari aparat dengan batu. Saya pikir tinggal menunggu waktu saja kampus ini diserbu.

Semakin malam suasana semakin mencekam. Banyak kabar simpang-siur. Banyak teman yang mau pulang yang ketika keluar dari kampus langsung digebukin dan dilempar ke truk-truk aparat. Saya yang tadinya mau keluar kampus akhirnya balik lagi. Di luar, di kampung sekitar Papringan, Gowok dan sekitarnya razia lebih keras, banyak orang yang tidak tahu apa-apa akhirnya dihajr dan ditangkap. Misalnya ada seorang mahasiswa yang baru ke Jogja dari pulang kampung, dia baru makan di angkringan, tiba-tiba digebuki dan ditangkap. Untungnya di Sapen, tempat saya tinggal, tidak terlalu keras padahal kampung ini satu kompleks dengan IAIN. Sekitar pukul 12 datang Kapolres dan Pembantu Rektor (I atau III, saya lupa, dan terjadi negosiasi dengan massa. Terjadi kesepakatan sebagian massa akan membubarkan diri asal ada jaminan keamanan. Akhirnya Kapolres dan PR mengantarkan sebagian mahasiswa yang tinggal di Sapen dan Papringan. Saya yang tidak tahu ada kesepakatan itu ketinggalan. Waktu saya kejar ternyata sudah jauh di depan dan hampir tak kelihatan, tapi daripada suasana tidak menentu di kampus, saya tetap keluar.

Jalanan menuju Sapen penuh dengan barisan tentara berlapis lapis, penuh sekali, bahkan hanya menyisakan lorong sekitar 1/2 meter. Praktis saya berjalan di depan moncong-moncong bedil dan wajah garang. Dengkul saya sampai gemetaran.. Ternyata di belakang juga banyak tentara Kopasus (baret merah). Sampai di kos rasanya lega sekali meski di luar banyak suara lalu-lalang derap sepatu. (waktu itu hanya bisa mengikuti beritanya dari Radio BBC yang mengabarkan kalau situasi mencekam sampai subuh).

Setelah pemilu, situasi agak sedikit reda, namun ketika pemilu selesai dan Pak Harto dipilih lagi yang kemudian disusul dengan pembentukan kabinet yang cukup kental nepotisme-nya, suasana lambat laun menjadi panas lagi, apalagi dengan krisis ekonomi yang tiba-tiba menghantam. Seingat saya secara kota-kota lain masih adem-adem saja, di Jogja demo sudah kembali marak, makin massif dan lebih berani lagi untuk menuntut turunnya Pak Harto, tuntutan yang tak terbayangkan akan terjadi pada bulan-bulan sebelumnya (penolakan pemilihan Pak Harto pernah terjadi juga, misalnya tahun 1978 di ITB, namun akhirnya dapat dilibas).

bersambung…

Foto: okusi.net

Advertisements